PIOS. ayo berjualan bareng truk dan tronton…!!! mau???


benar2 gila pemerintah surabaya.. dengan memindahkan tiga pasar induk di surabaya yang antara lain : pasar keputran, pasar peneleh dan pasar koblen..  satu kata saat pertama saya mengetahui info tersebut : hebat!!!!

PIOS yang notabene adalah singkatan dari Pasar Induk Osowilangun adalah sebuah wilayah dimana kita bisa menemukan truk bertenaga besar…  kedekatan wilayah osowilangun dengan margomulyo dimana jadi pusat pergudangan terbesar juga membuat PIOS menjadi pilihan yang hebat..  dengan rencana *mungkin* mengurangi jumlah penduduk surabaya yang berjibun hingga bernafas isinya sulit hingga akhirnya diputuskanlah membuat pasar di osowilangun.. kedahsyatan osowilangun saya yakin bisa membunuh banyak orang2 yang mau berbelanja di pasar itu..

kenapa saya bilang begitu?? bukan tanpa alasan.. pasar keputran, pasar koblen, dan pasar peneleh adalah pusat perputaran sembako di surabaya dengan pelanggan terbanyak.. setiap hari bisa dihitung perputaran uangnya.. sebagai pasar yang tidak pernah tidur, pasar itu jelas memiliki pelanggan yang banyak, dan dengan adat istiadat yang bisa jadi gak bisa di rubah oleh pemerintah sendiri.. dengan banyaknya pelanggan yang setiap hari datang dan juga bisa sampai setiap hari ada saja orang yang punya hajatan membuat mereka *mungkin* mau memusnahkan orang2 surabaya barang sedikit… dengan jalan apa?? dengan jalan biarkanlah mereka berbelanja ditemani truk tronton dan truk2 lainnya yang setiap detik kalau kita sedang berada di sana gak melihat truk2 tipe itu pasti akan berpikir “apakah hari ini sedang hari raya idul fitri??”

bicara adat atau mungkin budaya yang sudah turun dari para pelanggan sebenarnya merupakan sebuah masalah kecil yang bisa ya bisa tidak mengurangi pelanggan… di sini, sudah ada dari jaman jebot belanja drive thru.. beli ga pake turun dari kendaraan.. cuma beli apa yang dibutuhkan ke penjual biasanya, kalau misal harga naik ya mungkin tawar sebentar.. kalau ada gossip ya ngomong sebentar.. setelah itu barang dinaikkan ke kantong di kanan kiri sepeda motor, tinggal bayar, siap dijual lagi dah.. ini bahkan juga sudah sangat biasa di pasar2 tradisional dekat rumah saya.. nah pertanyaannya apa masalahnya dengan PIOS??? dengan bentuk menyerupai pasar2 modern seperti pasar genteng, pasar kembang pedagang jelas tidak bisa drive thru.. padahal tahulah bahwa ini bisa dipakai oleh orang2 sekitar pasar yang ga mau berjualan di dalam namun melihat PIOS yang ramai benar akhirnya pakailah drive thru untuk berjualan.. apakah ini sudah dipikirkan?? walaupun saya sendiri menilai tidak seberapa berdampak..

saya pribadi menyesalkan kenapa harus dipindah di PIOS??? saya bukan menolak pemindahan tersebut.. cuma balik lagi ke masalah truk-truk, balik lagi ke masalah jarak, balik lagi ke masalah uang, dan balik ke keabsahan kata guru SD saya dulu ” jangan beli makanan di luar sekolah.. itu ga bersih banyak kena debu..”  .. untuk masalah truk-truk saya rasa sudah saya katakan di awal-awal tadi… untuk masalah jarak sekarang.. apakah pemerintah di sini tidak menilai bahwa PIOS sangat pojok.. sangat menyenangkan tentunya bagi para pembeli yang daerah sana dan sekitarnya.. bagi yang jauh??? waduh… mikir sepuluh kali.. terutama bagi pecinta pasar keputran.. wilayahnya yang tengah kota yang selalu dianggap dekat dengan mana-mana jelas menjadi hal yang dipikir ulang oleh banyak pecintanya wilayah situ.. berikutnya masalah uang… untuk masalah uang nampaknya lagi2 yang disesalkan adalah biaya sewa.. untuk masalah ini perbandinganya cukup gelap… dengan biaya sewa wilayah perhari di pasar lama 2000 sampai 4000 perhari didapat kalkulasi Rp 1.460.000 per tahun…!!! dibanding dengan PIOS : biaya sewanya per meternya saja Rp 3 juta per meter persegi… sementara yang disediakan ukurannya mulai Ada yang 3×8 meter, 3×6 meter dan 3×4 meter untuk lapak sayur. Untuk lapak buah ada yang 3×9 meter, 2×6 meter, 2×3 meter dan 2×2,5 meter. Masing-masing lapak dijual dengan harga Rp 3 juta per meter persegi. Diakui WINURSITO, sejak awal April, harga lapak naik dari sebelumnya Rp 2 juta per meter persegi. hahahaha… bercandanya pemerintah orang surabaya… dan masalah terakhir adalah masalah keabsahan omongan guru2 jaman SD.. dimanakah kebersihan bisa dijaga dengan keadaan macam begitu??? asap truk berderu setiap detik.. bolehlah bilang : kita bisa usahakan daerah pasar bebas polusi truk-truk… tapi diperjalanan menuju konsumen akhir?? ya ga bisa jawab…  bagaimanakah pemkot menyikapi ini??? tidak ada…

tak selamanya potret ini buruk.. ada baiknya… bahwasanya kebersihan kota juga jadi bahan pertimbangan pemkot surabaya.. dan saya setuju itu… bahwa memang semua pasar terkadang sering mengganggu jalannya lalu lintas, dan lain sebagainya… tapi apakah tidak bisa itu ditertibkan??? caranya dengan mengusung anggota satpol untuk menjaga agar para penjual tidak berkeliaran di luar ‘wilayah’ tidak tertulis di situ.. karena yang membuat masalah kan bukan semua pedagang di pasar tersebut.. tapi yang masalah kan pedagang yang ga dapat tempat lalu berjualan di luar wilayah… kenapa digeneralisasi???

mari kita berdiskusi soal kasus ini… saya akan menerima segala pendapat anda.. baik pro atau kontra.. saya tidak akan marah.. dan saya akan langsung minta maaf jika memang apa yang saya tulis ini sebenarnya salah.. tentunya dengan sumber yang tepat… mari berdiskusi…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s