Masa Itu Kami Bocah


Dengan senyum di dalam gang itu, kami menceritakan segala yang telah aku rindukan dengan sangat dalam. Semua hal yang selalu aku rindukan. Sebuah kenangan dan satu masa yang indah dalam sejarah kehidupanku. Kami curahkan bersama di situ. Aku terenyuh dalam malam, melalui angin, melalui bulan yang samar, melalui apapun yang ada.
Dahulu kami berlari bersama, tanpa ada beban. Selalu berlari bersama. Tersenyum bersama. Menanti masa remaja bersama. Mengenal dunia bersama. Aku senang mengenal teman-temanku masa itu. Tawa lepas kami di sekolah yang memiliki lapangan yang luas itu. Seluas pikiran kita bahwa dunia esok kita masih akan bersama.
Kami entah anak-anak kecil yang tak tahu apapun di masa remaja itu nanti seperti apa, atau mungkin kami yang mencoba tidak mempedulikan masa remaja itu nanti seperti apa, tidak pernah terbebani dengan ulangan-ulangan, tidak terbebani dengan UNAS, tidak terbebani dengan impian masuk SMP negeri. Indah sekali memang pada masa itu.
Aku ingat betapa waktu itu UNAS menyapa kami. Dan lain dengan para siswa sebaya kami yang belajar dengan gila bak anak SMP dan SMA menghadapi UNAS, kami malah sibuk dengan dunia kami. Entah apa tujuan kami waktu itu. Entah apa yang ada dipikiran kami waktu itu, karena otakku juga telah lupa dengan apa yang aku sendiri pikirkan waktu itu, kami malah bermain-main di halaman sekolah bersama. Bahkan satu hal yang aku ingat waktu itu, kami hendak selesai mengerjakan UNAS hari kedua masih sempat-sempatnya salah seorang memastikan janji untuk balap sepeda keliling halaman sekolah kami. Sungguh polosnya kami waktu itu.
Ada hal lain lagi yang unik di masa kami bersama dulu. Seperti yang telah aku katakan sebelumnya, bahwasanya kami semua tidak pernah punya pikiran apapun tentang masa remaja itu seperti apa. Kalau kalian ingat dengan jaman-jaman obat kuat yang warna biru tua, terus iklannya yang booming waktu itu dan mereknya i**x. Itu pun sempat menjadi sebuah kejadian yang lucu dan ga bisa dilupakan pada masa kami masih bergumul. Kalau orang dewasa bilang itu obat kuat untuk melakukan hubungan intim, tapi kami mengartikan lain. Itu adalah obat buat melekan. (begadang)
Ceritanya sih, kami waktu itu kalau ga salah kelas 5 atau kalau ga kelas 6. Dan waktu itu ada persami (perkemahan sabtu minggu). Nah tahu sendiri lah.. umur-umur kelas 5 atau 6 kan masa-masa menunjukkan siapa diri kita. Walaupun bisa dibilang kami ga pernah berpikir tentang masa remaja itu seperti apa, tapi itu sudah merupakan naluri manusia bukan?? Dikarenakan ingin menunjukkan lebih kuat mana cowok sama cewek, para cewek-cewek berminat nantang cowok-cowok untuk begadang sampe pagi. Dan gilanya cowok-cowok sebagian besar keberatan.. *kan sudah dibilang kalo kami masih anak-anak*
Cerita berlanjut. Aku masih ingat betul waktu itu sedang pentas seni, murid kelas kami berkumpul di satu tempat, sambil membawa dua sachet i**x. tapi blo’onnya kami, sudah tahu itu barang kalau ketahuan sama pembina pramuka bakal di sita karena itu khusus pria dewasa, ini malah dipakai biar rencana begadang itu tetap lanjut. Dan setelah itu maaf otak saya ga nyampe untuk ingat adegan berikutnya sampai kelar persami itu. Tapi yang jelas, ga ada adegan percumbuan, atau mungkin nafsu yang tiba-tiba meninggi, atau apa pun hal yang seharusnya muncul kalau kita minum i**x. sungguh ga ada. Dan sampe detik ini pun, itu masih menjadi rahasia besar siswa SD BHAYANGKARI 6 SURABAYA angkatan 2003.
Semakin mundur kebelakang, kami pun pernah punya sebuah peristiwa yang mengharu biru pada masanya. Aku ingat waktu itu kelas 4, salah seorang teman kami yang telah bersama dari kelas 1 kalau tidak salah ingat, harus pindah ke negara nun jauh di sana yang kita pun hanya tahu dari TV dari koran dan dari mana saja. Ya.. dia harus pindah ke bali.. ke tempat yang jauh dari pandangan kecil kami. Dia salah satu teman yang paling kami suka. Apalagi para pria-pria yang masih pada bocah tapi kelakuannya binalnya minta ampun, jelas sangat kehilangan sosok I Gede **** (lupa kelanjutan namanya).
Dia sosok yang lemah lembut, kalo marah lucu, dan istilah kalo di senetron-senetron tuh ya yang anak culun, kutu buku gitu. Persis sekali kelakuannya. Dia sosok yang terhina dina karena sering diplorot celananya sama teman-teman sekelas. (ini penyebab aku ngomong pria-pria yang masih pada bocah tapi kelakuannya binalnya minta ampun) sebenarnya dia anaknya bukan tipe penyabar banget, tapi dia juga bukan sosok yang kuat menahan tekanan dari bocah-bocah kelas yang binal yang ga pernah puas guna melihat apa yang ada di balik celananya. (horor nih kalimat).
Dan puncaknya, merupakan sebuah kejadian yang lucu juga. Waktu itu aku ingat betul kami selesai pelajaran olahraga. Tahu dong kalau celana olahraga bentuknya Cuma kolor??? Pria binal mana yang ga kedip-kedip ngelihat celana kolor dipakai sama anak yang terkenal paling lemah?? Jelas waktu itu I Gede itu menjadi incaran massal bocah blo’on sekelas.
Waktu itu kalau ga salah, pas masuk ke kamar mandi. Kami sudah siap dengan strategi untuk mencopot celana I Gede. Dan voila…. sukses besar.. sesuai skenario bak pria penuh nafsu yang ngincer cewek sexy bak miyabi pun melempar kolornya keluar dari ruang ganti, dan eksekutor pencopot kolor pun menghambur keluar dengan tingkat kesuksesan sub misi 100% dan dilanjutkan dengan eksekutor berikutnya yang membawa celananya. Tapi maaf, saya adalah eksekutor pencopot kolor, jadi saya mencoba menghambur sambil mencuci tangan guna lepas dari dugaan pencopotan kolor. Dan saya bersembunyi di TK sebelah sekolah bak michael corleone yang bersembunyi ke sisilia setelah membunuh sollozo. Dan tahu-tahu ya i gede ga keluar-keluar dari kamar mandi hingga pansus dugaan percobaan pemerkosaan (hah?? Pemerkosaan??) atau lebih tepatnya pencopotan kolor I gede meringkus kami semua para eksekutor.
Keesokan harinya, kami tak menyadari kalau ternyata itu adalah kali terakhir kami mencopot kolor I Gede. Karena pada hari itu, I Gede harus balik ke tempatnya. Sungguh disayangkan. Kami masih ingin bersama terus. Dan ia melepas kami dengan tangisan yang mengharu biru dan ucapan maaf karena telah menjahilinya selama ini. Tapi satu hal yang sangar, salah seorang kawan yang seingat otak saya yang kecil ini merupakan teman yang sering membela I Gede, menangis meraung-raung di kelas, pas upacara pelepasan dirinya kembali ke peraduan. Bahkan karena ga kuatnya melepas haru yang telah menyesaki dadanya, ia sampe memegangi kawannya itu dengan sekuat anak kecil kelas 4 SD. Dia menangis sekencang-kencangnya sekuat ia memegang kaki I Gede agar ia ga pergi dari sekolah ini. Hoooooo… harusnya kalau waktu itu aku nemu kata-kata kalau jodoh ga bakal ke mana, mungkin aku bakal ngomong ke itu anak biar kita bisa ngelanjutin pelajaran lagi.. (jiaahh ngelanjutin pelajaran?? Maklum masih SD, masih polos… kalau sekarang???)
Kami mengingat itu semua. Bahkan aku dan kawanku yang aku kunjungi ini pun masih mengingat betul semua ingatan itu. Kami tertawa malu, tapi juga geli mengingat masa itu. Tapi biarlah itu menjadi episode paling indah dalam sejarah kehidupan kami suatu saat kelak.. tersimpan dalam sebuah sejarah yang akan selalu kami ingat, bersama peristiwa jitsu (jiwit susu *cubit susu*) dari pak gimun, lalu peristiwa cinta pertamaku yang benar-benar pertama, kisah persahabatan kami yang tak akan pernah pergi kemana-mana dari hati kami.
Untuk semua anak SD BHAYANGKARI 6 SURABAYA angkatan 2003, terima kasih karena kalian telah membuat masa kecilku berarti… i miss you all!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Terutama I Gede… ;lol;
tolong komentarnya bagi para pecinta cerpen.. ini hanya sebuah cerpen yang tidak seberapa penting, tapi punya arti mendalam bagi saya…

Opini soal Tut Wuri Handayani di dasi siswa SD dengan keadaan pendidikan di indonesia


Bagi semua yang mungkin setelah membaca postingan ini dan bingung apakah ini merupakan tulisan saya atau hanya copas, saya jelaskan di sini bahwa ini sungguh tulisan saya.. dan kalau anda bingung pembentukan kata2nya tidak seperti postingan2 saya yang lain, karena sebetulnya ini adalah tugas mata kuliah bahasa Indonesia yang nampaknya memang bagus untuk dijadikan pembahasan di blog ini.. dan sebagaimana tugas bahasa indonesia pada umumnya, penggunaan bahasa indonesia yang baik dan benar selalu harus dipakai… jadilah tulisan saya yang bisa dibilang jauh dari EYD, berubah sedemikian rupa hingga jadilah postingan ini.. selamat membaca..

Tut wuri handayani sudah sangat kita kenal dari jaman SD, dimana kata itu terdapat dalam sebuah kalimat pendidikan : ing ngarep sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani. Dimana itu berarti di depan memberi teladan, di tengah membangun karya , yang belakang memberi semangat. Untuk opini ini hanya sebuah hal yang jangan dianggap serius. Bahwa ini saya buat dengan bentuk sedikit mengkritik guna digantinya kata-kata tut wuri handayani.
Saya baru sadar, benar-benar sadar, dan terkekeh setelah sadar bahwa ketika saya masih SD, tulisan tut wuri handayani selalu menemani langkah saya guna menjadi bocah yang bakal melanjutkan estafet kepemimpinan terhadap negara ini. jujur setelah saya sadar saya sangat malu. Kenapa yang tertulis “tut wuri handayani”?? kenapa bukan ing ngarep madung karso???
Kita semua tahu, dan sangat tahu bahwa kalimat motivasi haruslah berisi kata-kata yang membangun. Contoh kata-kata motivasi : kegagalan adalah kemenangan yang tertunda. Setelah kau jatuh bersihkan bekas kamu jatuh, jangan malah kamu tinggal. (kutipan dari buku the power of kepepet) kalau ternyata kita tahu bahwa kalimat motivasi haruslah berisi kata-kata yang membangun, bagaimana sinkronasinya dengan kalimat : “tut Wuri Handayani”??? apakah kata-kata itu mengandung sebuah hal yang membangun kita??
Janganlah berbicara efek terdalam dari kalimat itu, karena itu nanti akan masuk dalam pembahasan saya nanti. Tapi yang patut kita pahami terlebih dulu adalah bagaimana bisa tut wuri handayani ditempel dan dibaca, dan diresapi oleh siswa SD dengan ditempelkan di dasi mereka??? Arti kata tut wuri handayani yang membuat saya malu. Yang belakang memberi semangat, berarti hanya jadi pemandu sorak. Menjadi pemandu sorak sulit (bahkan tidak bisa) untuk menjadi pemimpin, apalagi sampai memberi teladan seperti tertuang dalam kata : “ ing ngarep sung tulodho”
Saya bukan orang yang kurang kerjaan mempermasalahkan kasus pendidikan yang satu ini. ketika anda memahami kata-kata yang jadi masalah di opini ini, anda bisa coba sambungkan dengan terpuruknya pendidikan di indonesia. Memang terlalu dipaksakan buat disambung. Tapi juga bukan hal yang salah pula jika kita sambungkan dengan “tut wuri handayani”. Lagi-lagi masalah yang muncul di sini adalah : dari motivasinya sudah salah kaprah, gimana mau jadi maju??
Masalahnya begini : tut wuri handayani dengan pemikiran otak kosong, berarti kan menyuruh anak bangsa untuk hanya memberi semangat dibelakang saja. Tak perlu memberi teladan, tak perlu pula membangun karya. Hebat sekali yang menyuruh menuliskan tut wuri handayani di dasi anak SD.
Terus mau kapan semua ini berjalan? Padahal sebenarnya pemerintah dalam segmen ini adalah menteri pendidikan memberikan pencerahan atau setidaknya mengganti kata-kata ambigu “tut wuri handayani” . semua itu tujuannya jelas agar motivasi yang kita berikan pada anak-anak penerus bangsa ini jelas. Bahwa mereka harus bla.. bla.. bla.. jangan malah anak-anak penerus bangsa harus jadi pemandu sorak.
Sekian opini dari saya mungkin banyak yang salah mohon maaf.
mari berdiskusi dengan santai dan tanpa emosi…