Opini soal Tut Wuri Handayani di dasi siswa SD dengan keadaan pendidikan di indonesia


Bagi semua yang mungkin setelah membaca postingan ini dan bingung apakah ini merupakan tulisan saya atau hanya copas, saya jelaskan di sini bahwa ini sungguh tulisan saya.. dan kalau anda bingung pembentukan kata2nya tidak seperti postingan2 saya yang lain, karena sebetulnya ini adalah tugas mata kuliah bahasa Indonesia yang nampaknya memang bagus untuk dijadikan pembahasan di blog ini.. dan sebagaimana tugas bahasa indonesia pada umumnya, penggunaan bahasa indonesia yang baik dan benar selalu harus dipakai… jadilah tulisan saya yang bisa dibilang jauh dari EYD, berubah sedemikian rupa hingga jadilah postingan ini.. selamat membaca..

Tut wuri handayani sudah sangat kita kenal dari jaman SD, dimana kata itu terdapat dalam sebuah kalimat pendidikan : ing ngarep sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani. Dimana itu berarti di depan memberi teladan, di tengah membangun karya , yang belakang memberi semangat. Untuk opini ini hanya sebuah hal yang jangan dianggap serius. Bahwa ini saya buat dengan bentuk sedikit mengkritik guna digantinya kata-kata tut wuri handayani.
Saya baru sadar, benar-benar sadar, dan terkekeh setelah sadar bahwa ketika saya masih SD, tulisan tut wuri handayani selalu menemani langkah saya guna menjadi bocah yang bakal melanjutkan estafet kepemimpinan terhadap negara ini. jujur setelah saya sadar saya sangat malu. Kenapa yang tertulis “tut wuri handayani”?? kenapa bukan ing ngarep madung karso???
Kita semua tahu, dan sangat tahu bahwa kalimat motivasi haruslah berisi kata-kata yang membangun. Contoh kata-kata motivasi : kegagalan adalah kemenangan yang tertunda. Setelah kau jatuh bersihkan bekas kamu jatuh, jangan malah kamu tinggal. (kutipan dari buku the power of kepepet) kalau ternyata kita tahu bahwa kalimat motivasi haruslah berisi kata-kata yang membangun, bagaimana sinkronasinya dengan kalimat : “tut Wuri Handayani”??? apakah kata-kata itu mengandung sebuah hal yang membangun kita??
Janganlah berbicara efek terdalam dari kalimat itu, karena itu nanti akan masuk dalam pembahasan saya nanti. Tapi yang patut kita pahami terlebih dulu adalah bagaimana bisa tut wuri handayani ditempel dan dibaca, dan diresapi oleh siswa SD dengan ditempelkan di dasi mereka??? Arti kata tut wuri handayani yang membuat saya malu. Yang belakang memberi semangat, berarti hanya jadi pemandu sorak. Menjadi pemandu sorak sulit (bahkan tidak bisa) untuk menjadi pemimpin, apalagi sampai memberi teladan seperti tertuang dalam kata : “ ing ngarep sung tulodho”
Saya bukan orang yang kurang kerjaan mempermasalahkan kasus pendidikan yang satu ini. ketika anda memahami kata-kata yang jadi masalah di opini ini, anda bisa coba sambungkan dengan terpuruknya pendidikan di indonesia. Memang terlalu dipaksakan buat disambung. Tapi juga bukan hal yang salah pula jika kita sambungkan dengan “tut wuri handayani”. Lagi-lagi masalah yang muncul di sini adalah : dari motivasinya sudah salah kaprah, gimana mau jadi maju??
Masalahnya begini : tut wuri handayani dengan pemikiran otak kosong, berarti kan menyuruh anak bangsa untuk hanya memberi semangat dibelakang saja. Tak perlu memberi teladan, tak perlu pula membangun karya. Hebat sekali yang menyuruh menuliskan tut wuri handayani di dasi anak SD.
Terus mau kapan semua ini berjalan? Padahal sebenarnya pemerintah dalam segmen ini adalah menteri pendidikan memberikan pencerahan atau setidaknya mengganti kata-kata ambigu “tut wuri handayani” . semua itu tujuannya jelas agar motivasi yang kita berikan pada anak-anak penerus bangsa ini jelas. Bahwa mereka harus bla.. bla.. bla.. jangan malah anak-anak penerus bangsa harus jadi pemandu sorak.
Sekian opini dari saya mungkin banyak yang salah mohon maaf.
mari berdiskusi dengan santai dan tanpa emosi…

4 thoughts on “Opini soal Tut Wuri Handayani di dasi siswa SD dengan keadaan pendidikan di indonesia

  1. Maaf, saya hanya ingin memberikan sedikit pendapat saya…
    Saya mengutip melalui Wikipedia bahwa prinsip dasar dalam sekolah/pendidikan Taman Siswa yang menjadi pedoman bagi seorang guru adalah:
    * Ing Ngarso Sung Tulodo (di depan murid, kita/guru memberi contoh kepada murid)
    * Ing Madya Mangun Karso (di tengah-tengah murid, kita/guru membangun prakarsa dan bekerja sama dengan mereka)
    * Tut Wuri Handayani (dan dari belakang, kita/guru memberi daya-semangat dan dorongan bagi murid).
    Yang ingin saya katakan di sini bahwa semboyan tersebut bukanlah untuk para murid atau siswa melainkan untuk para guru atau sistem dari pendidikan kita di mana guru haruslah mampu memotivasi siswanya dari belakang. Alasan kenapa yang dipilih semboyan no 3, mengenai hal itu saya tidak mengetahuinya. Mohon maaf jika pendapat saya kurang tepat. Artikelnya sangat menarik.. Terimakasih.

    • terima kasih atas penjelasannya.. karena saya ternyata baru mengetahui tentang hal itu..

      karena sebelum saya menulis ini saya sulit sekali menemukan info tentang 3 peribahasa tersebut.. dan ternyata hal tersebut ditujukan untuk guru dan bukan untuk murid..

      dan yang sekarang menjadi pertanyaan adalah, kenapa tulisan tersebut ditulis di dasi para siswa??? bukannya ditempelkan di baju guru2 biar lebih tepat bahwa hal tersebut ditujukan untuk para guru… ??

      terima kasih udah mampir di dunia bond chan.. sering-sering mampir di dunia bond chan ya…😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s