Jajanan Idul Fitri Pun Bisa kredit


Sebenarnya tulisan ini sudah lama saya tulis, karena paksaan tugas salah satu mata kuliah, dan sepertinya memang bisa dibilang terlambat buat diposting sekarang karena lebaran sudah lewat beberapa minggu. Tapi semoga masih masuk buat sekedar jadi bahan bacaan, apalagi kan sekarang masih berbau Idul Fitri. (maksa sedikit mode on) 馃榾

jajanan idul fitri telah menjadi barang yang wajb dan nampaknya memang harus ada di setiap rumah menjelang dan selama idul fitri. Mulai dari yang kaya, sederhana sampai yang kurang tak pernah melewatkan barang yang satu ini. Suguhan yang ditujukan untuk tamu mereka ini ternyata tak lepas dari kemajuan zaman. Ternyata tak hanya mobil, sepeda motor, dan barang eletronik saja yang bisa dikreditkan. Jajanan idul fitri pun bisa dikredit.

Entah ide kredit jajanan ini dimulai di mana, tapi yang jelas saya sendiri baru tahu ketika idul fitri tahun ini. Tahun pun karena kebetulan ada orang yang mengantar jajanan idul fitri pesanan ibu saya, nah setelah itu pembantu rumah saya ditagih kreditan ‘jajanan idul fitrinya’. Kalau dari harga kuenya sendiri tak seberapa mahal untuk kalangan tertentu. Namnu bagi mereka yang berada di bawah garis standard orang umum, bisa dikata cukup berat. Belum lagi uang sudah habis duluan karena tiket mudik yang dahsyat harganya selama lebaran + angpao buat sanak saudara.

Harga setoples jajajan idul fitri itu sebenarnya berkisar antara 20-30 ribu rupiah. Jika kita tarik sebuah perhitungan ringan, mungkin akan muncul perhitungan berikut : 20.000 rupiah dibagi 3 bulan plus bunga sekitar rp 3000. Berarti kredit perbulannya sekitar rp 7500/toples. Tinggal dikalikan berapa tolpes, dan berapa bulan saja tentunya. Sudah seperti kredit sepeda motor bukan?

Sesuatu hal yang menganehkan disini adalah kenapa mereka harus membeli secara kredit? Padahal secara jumlah tak sebegitu besar untuk ukuran orang kota surabaya. Memang harga kisaran yang saya tunjukkan diatas adalah harga jajanan sejenis kastengel, kue putri salju, dan sejenisnya. padahal masih ada lagi biskuit bermerkyang sudah biasa kita temukan ketika lebaran tiba. Nah kalau kita sebut harga untuk biskuit tersebut, mungkin kredit perbulannya bisa jauh lebih tinggi tentunya.

Sebenarnya ada beberapa hal yang melandasi mereka sampai mau kredit sebuah barang yang bisa habis dalam beberapa hari tersebut. Antara lain : faktor kebutuhan, faktor keinginan, faktor prestise. Sekarang akan saya kupas satu-satu faktor tersebut.

Bagi orang indonesia, jajanan idul fitri adalah sebuah kebutuhan. Kebutuhan untuk balas dendam setelah sebulan penuh berpuasa, juga kebutuhan untuk menyuguhkan sesuatu kepada tamu di hari kemenangan. Tak ayal hal inilah yang membawa orang-orang tersebut ke sebuah hal kredit-mengkreditkan. Dimana jajanan idul fitri telah menjadi kebutuhan pokok, dan penjual kue dadakan juga tak ingin melewatkan hari bahagia bagi umat muslim di seluruh dunia ini dengan uang THR saja. Lengkaplah sudah.

Faktor keinginan sebenarnya juga mendasari lingkungan kredit jajanan lebaran ini. Keinginan untuk apa? apakah keinginnan untuk menyuguhkan sesuatu ke tamu? Tentu tidak. Karena hal tersebut sudah menjadi kebutuhan bagi banyak orang di masa lebaran. Faktor keinginan ini lebih kepada keinginan menyumbang sesuatu untuk mengisi meja tamu keluarga besar di kampung halaman. Jelas merupakan sebuah bentuk keinginan. Karena hal tersebut juga bisa dibilang sebagai balas budi ke orang tua kita. Inilah yang melandasi mereka untuk membeli jajanan hingga kredit pun dipilih.

Faktor ketiga adalah faktor prestise. Jajanan bisa menjadi sebuah barang yang bernilai prestise bagi beberapa jenis orang. Karena dalamnya lautan dapat dihitung, dalamnya hati siapa yang tahu? Inilah yang tak dapat kita temukan penyelesaiannya. Apakah yang dijadikan prestise bagi mereka dalam sebuah toples jajanan itu? Tentunya banyak. Mulai dari rasa, tampilan, sampai harga tentunya. Jangkauan prestise mereka bisa mulai sesama tetangga, sesama RT, sampai sesama keluarga besar yang lama tak bertemu.

Tiga faktor diatas adalah dalang munculnya orang yang orang yang mau mengkreditkan jajanan idul fitri mereka. tentunya masih ada faktor lain yang kita tidak tahu. Namnu bagi saya tiga hal diatas adalah yang tertinggi yang bisa dijadikan alasan mengkredit barang yang sebenarnya bisa membusuk sebelum masa kreditnya habis tersebut.

Iklan

Idul Fitri (Hari) Kemenangan atau Juara?


Sebelumnya saya ingin mengucapkan selamat idul fitri mohon maaf lahir batin buat semua pengunjung setia dunia bond chan. Kalau saya punya kesalahan, sering mengkritik secara berlebihan, posting dengan bahasa yang menyayat hati, sampai mungkin melanggar batas2 prinsip anda. Dari lubuk hati paling dalam, saya minta maaf. Karena semua itu hanya sekedar rasa berbagi saya untuk anda semua.

karena sekarang masih hari kedua idul fitri, kayaknya dimana-mana semua pada ngobrolin soal arti idul fitri secara harfiah dan segala pernak perniknya.. Dunia Bond Chan tentunya sangat jarang bahkan mungkin ga pernah membahas sesuatu hal dari sudut yang sama dengan orang pada umumnya. Dan anda sebagai pembaca tentunya membuka blog ini untuk mencari hal yang unik yang diambil dari sudut teraneh di dunia tentang sebuah permasalahan.

Kali ini obrolan saya tak jauh-jauh dari Idul Fitri. Tapi Idul fitri yang dibahas di dunia bond chan jelas berbeda dan menggugah dasar berpikir yang telah ada di otak anda namun anda tak peduli. Silahkan simak…

Idul fitri dari jaman kita lahir mungkin telah dibentuk sebagai istilah sebagai hari kemenangan. entah itu kemenangan dari hawa nafsu, atau kemenangan dari apapun. Yang jelas idul fitri adalah hari kemenangan. Kenapa disebut hari kemenangan? Kenapa tak disebut sebagai hari pesta juara? atau hari yang menggunakan kata selain kemenangan?? kenapa harus menggunakan kata kemenangan??

Secara tata bahasa indonesia dikatakan : ju路a路ra n 1 Olr orang (regu) yg mendapat kemenangan dl pertandingan yg terakhir; sementara kata聽ke路me路nang路an n 1 hal menang: – itu diperolehnya dng perjuangan berat; 2 keunggulan; kelebihan: kekalahan dl harta ditebus dng – dl ilmu dan amal. http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php

Sebenarnya memang tak cukup menyenangkan jika kita menggunakan kata kemenangan ketika kata itu kita gunakan untuk mewakili hari idul fitri setelah kita tahu arti secara kamus besar bahasa indonesia. Kenapa? Karena kita merasa kita telah bertarung melawan hawa nafsu kita. Kita telah berjuang melawan semua halangan di depan mata. Dan kita semua tahu itu. Mungkin akan lebih tepat jika kita menggunakan kata hari menjadi juara sebagai peringatan untuk hari yang fitri tersebut. Karena kita bukan hanya menang. Tapi kita JUARA. Menjadi juara dalam pertandingan melawan syetan. Dan sebuah bentuk pertandingan adalah salah satu unsur utama disematkannya kata juara. Berbeda dengan kemenangan yang lebih bersifat general dan tanpa ada keterangan melalui sebuah pertandingan atau perlombaan. Tapi ada yang menguatkan kenapa kata kemenangan lebih pantas disematkan. Coba perhatikan kata itu diperolehnya dng perjuangan berat.

Nah bingung kan? Sebenarnya kita ini juara atau menang? Kalau kita bilang juara memang betul. Karena kita kan melawan hawa nafsu. Hawa nafsu sendiri sebenarnya kalau ditarik sebuah bentuk dapat dikatakan sebagai satu biji atau buah atau bongkah yang bersifat tunggal. Terlepas jika anda katakan bahwa hawa nafsu itu ada nafsu makan, nafsu untuk minum sampai nafsu birahi. Yang jelas hal tersebut bisa dikatakan sebagai sebuah bentuk komposisi yang dalam bahasa indonesia diberi kata : hawa nafsu.

Kemenangan sendiri sebenarnya juga ga salah. Karena kalau secara bentuk pembahasan kita dapat memegang teguh pada arti secara harfiah dari kata kemenangan yang sudah saya sebutkan diatas tadi. Dimana kemenangan itu diperoleh dengan perjuangan yang berat. Memang juara juga melewati perjuangan yang berat. Namun kata juara lebih merujuk pada bentuk pertandingan sementara kemenangan lebih menjurus pada hasil akhir. 聽Dan lagi sebenarnya kata kemenangan juga lebih besar cakupannya. 聽Lihat cukilan berikut :

Kemenangan yang kita raih di idul fitri sebenarnya bukan kemenangan yang kita dapat selama berpuasa saja. Namun lebih dari itu, kita juga menang melawan rasa malas yang berada di urutan ketiga setelah haus dan lapar. Kenapa bisa begitu? Karena coba kita ingat. Selama puasa kita lebih rajin sholat. Rajin tarawih. Bahkan sampai mau sahur. Dimana sahur juga merupakan bagian dari ibadah. Mungkin banyak juga yang menambahkan dengan baca qur鈥檃n dan sebagainya. Namun secara umum, hal tersebut diatas bisa kita rasakan sebagai kemenangan kita dari rasa malas. Yang mana rasa malas sendiri juga merupakan bagian dari hawa nafsu. Dimana hal tersebut membawa kita pada satu taraf lebih tinggi, setidaknya menyentuh taraf terbiasa dan ga enak jika ga dilakukan lagi.

Jadi kemenangan juga menduduki taraf yang sama dengan kata juara sebagai kata yang sepadan untuk menggambarkan hari yang paling dinanti oleh anak kecil di indonesia ini.

manakah yang anda pilih untuk menggambarkan dahsyatnya idul fitri? Semua pilihan ada pada anda. Karena di Dunia Bond Chan anda akan menemukan sebuah hal yang paling mendasar, dan hasil akhir hanya anda yang dapat tentukan.

Sekali lagi, saya Bond Chan menyatakan SELAMAT IDUL FITRI MOHON MAAF LAHIR BATIN.