Jangan Jadi Enterpreuner, Tapi Suruh Jualan


Kali ini saya bener-bener udah risih sama kebodohan pemerintah. Sudah sangat sering TKI kita dibantai di negeri orang. Dan negerinya pun sama. Kalau ga Malaysia ya arab saudi.  Orang Indonesia sendiri juga sudah sangat bosan dengan berita itu. Apalagi melihat tindakan nihil pemerintah, seluruh bangsa Indonesia malah serasa pengen menggencet wajah SBY biar sadar tentang penyiksaan TKI tersebut. Berbagai solusi sudah dilakukan, mulai dari peringatan (entah benar memperingatkan atau hanya ngemis2 minta jangan menyiksa TKI) sampai yang terbaru rencana pemberian Handpone untuk TKI. Semua itu menurut saya bisa membantu TKI selama mereka jauh dari jangkauan keluarga dan (mungkin) pemerintah. Namun ada satu hal yang dari dulu selalu didengungkan menjadi sebuah solusi bagi TKI. Yaitu memulangkan TKI lalu diberikan penyuluhan untuk menjadi Enterpreuner.

Kata enterpreuner atau biasa dikenal banyak orang awam dengan arti pengusaha, dari dulu selalu didengungkan oleh banyak ahli dan mungkin juga menteri-menteri di pemerintahan pusat. Namun apakah mereka sadar, kata itu begitu ‘menyesakkan’ bagi telinga dan jangkauan pikiran para TKI tersebut? yah.. Kata enterpreuner bisa seperti sebuah kata yang masuk kategori kata yang harus dienyahkan dari otak mereka. Bukan karena mereka tidak punya mental enterpreunership atau mereka sudah terlalu nyaman dengan menjadi pembantu seperti kata-kata yang diungkapkan oleh banyak motivator enterpreneurship di Indonesia. Mereka memang sengaja mengenyahkan kata-kata enterpreneurship karena kalau disurvei, bisa kurang dari 50% TKI dan TKW yang menjadi pembantu di negeri orang tersebut mengerti kata enterpreuneur. Dan sebagian dari mereka yang mengerti, banyak berpikiran bahwa enterpreuner itu berarti menciptakan sebuah perusahaan. Tentunya kalau mereka sudah berpikir soal menjadi pengusaha, berarti mereka harus punya banyak karyawan dan punya banyak modal. Modal darimana? Uang dari menjadi TKI jelas ga akan cukup untuk itu.  Tapi sebenarnya disinilah letak kesalahan para ahli atau para pemberi penyuluhan yang bertugas memberikan penyuluhan untuk menjadikan mereka Enterpreuner.  Rubah kata-kata Enterpreuner menjadi kata-kata berjualan.

Ya, perbandingan kata enterpreuner dan berjualan memang hampir tidak ada. Karena keduanya memiliki arti yang sama, namun bagi orang yang tidak mengerti banyak dianggap berbeda. Kata-kata berjualan adalah kata-kata yang menurut saya sangat pas untuk ditujukan bagi para TKI di negeri orang tersebut. Kenapa? Karena kata-kata berjualan lebih dekat dengan mereka.  Kata berjualan banyak digunakan oleh mereka yang tidak mementingkan gengsi dalam setiap kata yang diucapkan. Atau Singkat kata bisa dikatakan, kata berjualan itu bukan termasuk dalam bahasa yang tinggi layaknya enterpreuner atau pengusaha. Padahal sebenarnya keduanya memiliki arti yang sama dan bermuara pada tujuan yang sama. Coba saja kalau dari depan tempat penyuluhan, tertulis penyuluhan untuk menjadi penjual atau semacamnya. Pastilah mereka akan dengan senang hati mengikuti bukan malah dengan muka bosan dan telinga yang mungkin tertutup secara otomatis ketika mengikuti penyuluhan yang menurut saya merupakan solusi paling tepat bagi tenaga kerja tersebut.

Kenapa berjualan itu menjadi solusi paling tepat bagi TKI/TKW untuk saat ini? Sekarang kita bisa berpikir, tujuan mereka menjadi TKI adalah untuk mendapat pekerjaan di negeri orang. Walaupun ada juga yang ingin mendapat gaji lebih tinggi ketimbang di tempat asal mereka. Namun inti dari semua itu kan hanya satu : ingin tetap bisa beli makan untuk tetap hidup. Nah,  apesnya mereka gak mengerti kalau di negeri orang nun jauh dimata tersebut tidak sedikit yang tidak toleran dengan ketidak penguasaan terhadap bahasa mereka. Jadilah mereka menjadi bulan-bulanan juragannya.  Jadi sebenarnya memberikan penyuluhan untuk menjadi penjual buat mereka (calon) TKI sangat dibutuhkan agar mereka bisa setidaknya mempunyai pekerjaan, bahkan bisa membuka lapangan pekerjaan. Kalau sudah bekerja di negeri sendiri kan enak, kalau mereka berjualan bakso misalnya penjual juga bisa bahasa Indonesia sama seperti mereka.

Untuk kesimpulan kali ini hanya satu sebenarnya, bahwa faktor penggunaan bahasa yang tidak muluk adalah kunci mujarab untuk memajukan negeri ini. Karena orang dengan tingkat kebahasaan yang tinggi di negeri ini juga tidak banyak. Jadi janganlah terlalu sombong menunjukkan bahasa yang tinggi untuk orang yang bahasanya rendah. Inti dari semuanya adalah : gunakan bahasa sesuai tempatnya dan tujuannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s