Upacara Makan Khas Indonesia


Selamat ulang tahun buat Dunia Bond Chan yang pertama..!!! Dan buat yang menang sayembara panggilan untuk Dunia Bond Chan, segera akan dikonfirmasi lewat email.. Buat yang belum beruntung, coba lagi tahun depan kali aja saya bosen sama panggilan yang sekarang pas ulang tahun ke dua Dunia Bond Chan.😀 Dan buat yang penasaran sama panggilan buat pembaca Dunia Bond Chan, mari belajar mengucapkannya : Bond-bond. Yah, buat yang merasa sudah ngirim usul panggilan itu, selamat!!!!

Oke untuk memperingati ultah Dunia Bond Chan yang pertama, saya sudah menyiapkan sebuah tulisan yang lucu dan mungkin ga banyak orang menyadarinya. Sesuai judul, mungkin sudah ada yang bisa menebak. Tapi yang belum bisa, monggoh nikmati sajian khas ulang tahun pertama Dunia Bond Chan.

Upacara merupakan sebuah hal yang selalu dianggap sakral oleh sebuah kebudayaan di dunia ini. Upacara bendera setiap hari senin, upacara minum teh di jepang (chanoyu), sampai upacara makan atau apapun upacara yang ada di dunia. Semua itu dijalankan dengan sakral, dan khidmat. Tak seberapa berbeda dengan upacara makan di Indonesia yang cukup sering dilakukan, namun orang indonesia sendiri sering tidak menyadari upacara tersebut. Contohnya : upacara makan Sate, upacara makan pecel, upacara makan bakso pun juga ada. Percaya atau tidak? percayalah!!!

Makan sate sudah menjadi hobi bagi sebagian banyak orang di Indonesia. Entah darimana asal muasal makanan ini, tapi yang jelas makanan ini mengandung sebuah ritual / upacara yang harus dijalankan oleh kebanyakan orang sebelum memankannya. Ritual yang dilakukan saat makan sate, entah itu sate madura sate padang atau sate apapun adalah menghirup atau minimal melihat asap sate yang dibakar terlebih dahulu. Percayakah anda bahwa tidak sedikit orang yang melakukan ritual ini. Karena menghirup atau melihat atau bahkan pulang harus membawa bau asap pembakaran sate adalah sebuah bukti bahwa sate yang dia beli ada fresh from pembakaran.. (halah maaf bahasa inggris saya jelek)

Tak ayal, sangat jarang kita melihat sebuah warung sate yang menyembunyikan si pembakar sate di belakang warungnya. Adapun itu warung pasti tidak akan laku. Believe it or not? believe it!! Setelah menikmati asap sate, ritual berikutnya adalah memegang tusuk sate. Ya, tusuk sate adalah identitas utama sebuah makanan disebut sate. Kalau tanpa tusuk, orang tidak akan menganggap itu sate. Tapi menganggapnya tongseng. Setelah memegang tusuk sate, barulah satu dilahap satu persatu. Ritual ini sebenarnya tidak perlu khidmat seperti chanoyu, tapi sangat sakral melebihi upacara bendera 17 Agustus. Karena ritual itulah yang membuat penjual sate laris, dan karena ritual itu pula lah tidak ada namanya Sate Dorang, Sate Gurami, Sate bandeng. Padahal gurami, dorang, bandeng tersebut juga dibakar. Sekali lagi, percayakah Bond-bond akan salah satu ritual ini? Percayalah!!

Ritual atau upacara berikutnya yang patut kita perhatikan adalah upacara orang yang memakan Pecel. Ya, pecel. Sebuah makanan yang lagi-lagi membuat saya bingung tujuh keliling layaknya sate. Karena ada pecel madiun, ada pecel ponorogo, ada pecel tidar, ada pecel petemon.. *halah dua terakhir itu bukan jenis pecel, tapi merek pecel* Ada yang bisa menjawab ritual apa yang ada di seonggok makanan Pecel? Tentu ada. Pemakan pecel kelas wahid, pasti tidak akan melancangi ritual yang sudah dari turun temurun ini.

Pemakan pecel biasanya selalu makan sayurnya terlebih dahulu. Baru setelah memakan Sayurnya, mereka mulai makan lauk paling tidak enak terlebih dahulu. Biasanya tempe atau tahu atau dadar jagung (perkedel jagung) kemudian. Sebagai klimaks, sang penikmat pecel sejati jelas tidak akan melupakan lauk yang menjadi gong dari nasi pecel yang dibelinya tersebut. Bisa daging empal, bisa ayam.  Ada yang bisa mengelak hal tersebut, bond-bond sekalian??

Mari kita buka tabir tersembunyi dari ritual ini. Ritual ini seyogyanya diilhami dari peribahasa : bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Ada yang sudah mengerti? Bagi yang belum mengerti, mari kita beranalogi. Sayur bagi orang indonesia bukan merupakan makanan yang disuka. Karena merupakan makanan yang menggangu kenikmatan dari pecel tersebut. Oleh karena itu, makanan satu itu harus diusir dulu atau secara analogi bersakit-sakit dahulu. Setelah bertarung dengan sayur mayur, berikutnya mulai sedikit enak. Lauk sekunder dari sebuah sajian nasi pecel ternyata juga menjadi sebuah masalah bagi penikmat pecel nomor wahid di dunia. Ya, makanan sekunder yang contohnya sudah saya katakan diatas ternyata harus dilenyapkan kedua setelah sayur mayur.

Klimaks setelah berjibaku dengan ‘ketidaknikmatan’ dari makan nasi pecel pun akhirnya sampailah pada lauk primer. Lauk primer ini sebenarnya banyak sekali contohnya. Bahkan saya juga banyak pilihan. Kalau sarapan pagi yang notabene saya suka sekali makan pecel dekat rumah, lauk primer yang paling saya suka adalah : Telor. Kalau beli pecel di sebuah resto jawa timuran yang bertuliskan pecel bu *** saya lebih suka lauk primernya adalah : otak goreng. Kalau anda Bond-bond??

Menurut penilaian tim Dunia Bond Chan, ritual makan pecel ini adalah yang harus dilakukan jika memang anda menyatakan diri anda sebagai penikmat pecel kelas wahid. Karena filosofinya pun ada. Selain filosofi mengikuti peribahasa yang menyatakan rasa syukur dan perjuangan diatas, juga ketika kita mengikuti hal tersebut diatas kita akan mengerti rasa sesungguhnya dari nasi pecel yang kita beli. Coba saja kalau kita makan mengikuti runtutan mundur. Kita tidak akan bisa mengecap rasa murni dari bumbu pecel yang menjadi kunci utama sebuah warung atau resto yang menyajikan pecel tersebut ramai pembeli. Believe it or not? Believe it!!!

Makanan terakhir yang harus melalui sebuah Upacara juga yang bisa ditemukan oleh tim Dunia Bond Chan. Makanan satu ini juga begitu membingungkan asalnya. Ada yang dari solo, ada yang dari malang ada yang dari Surabaya. yap!! Sudah tertebak? Jawabannya adalah : Bakso.

Makanan yang terdiri atas tahu, siomay basah, siomay goreng (gorengan) dan pentol beraneka bentuk ini juga mempunyai ritual atau upacara yang harus dijalankan oleh banyak penikmat bakso nomor wahid.  Tak berbeda dengan pecel, bakso pun juga mempunyai filosofi memulai semuanya dari yang tidak enak. Namun tidak enaknya bakso masih lebih enak dari pecel menurut sebagian kecil penikmat kuliner Indonesia. Bagi bond-bond yang makan bakso dimulai dari siomay kering (gorengan) lalu tahu dilanjutkan siomay basah dan diklimaks dengan pentol angkat tangan. Selamat, anda masuk sebagai bagian dari penikmat bakso nomor wahid. Karena bond-bond yang melakukan ritual itu adalah penikmat bakso yang mengikuti ritual kebanyakan orang penikmat bakso.

Jadi bakso kalau menurut kebanyakan orang di meja redaksi Dunia Bond Chan selalu memakan bakso dimulai dari siomay kering dulu. Kenapa? Karena siomay kering akan tidak enak jika dimakan kedua atau ketiga. Karena sudah basah oleh kuah bakso. Jadi, kering lebih nikmat!😀 dilanjutkan dengan tahu adalah ritual terbanyak yang dilakukan oleh bond-bond yang kena sergap untuk mengisi poling. Menurut kita, tahu memiliki tekstur yang berbeda dari siomay kering tadi. Sedikit ganjil rasanya kalau habis makan siomay kering lanjut makan siomay basah.  Baru setelah tahu, dilanjutkan siomay basah.  Setelah siomay basah, barulah sebagai klimaks pentol masuk mulut.

Sedikit berbeda dengan pecel yang harus mendahulukan cita rasa bumbunya di awal.  Bakso justru diletakkan di akhir oleh bond-bond yang kena poling.  Menurut perhitungan, pentol yang notabene dijadikan tonggak utama kenikmatan sebuah bakso bisa ditaruh di akhir karena kuah bakso juga menjadi perhitungan bond-bond. Jadi, kalau pecel hanya punya satu perhitungan kenikmatan, bakso ada dua. Yaitu di kuah dan pentolnya.😀

Jadi, percaya atau tidak? Percayalah!!

Sekali lagi, selamat ulang tahun yang pertama Dunia Bond Chan!!!!!!!!!!!!!

2 thoughts on “Upacara Makan Khas Indonesia

  1. Ping-balik: Bakso Pak Wage -Disaat Rasa Rindu Hanya Bisa Terasa Pada Semangkok Bakso- « Ga Cuma Makan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s