SM*SH vs K Pop Lovers


Siang Bond-Bond..!!!

Sebelumnya saya mau melaporkan, ada pergantian judul dikarenakan tulisan ini dirasakan terlalu menyinggung seluruh pecinta berbau-bau Korea. Oleh karena itu, judul saya ganti yang sebelumnya Sm*sh vs K Lovers dirubah menjadi Sm*sh vs K Pop Lovers. Maaf atas ketidaknyamanannya. Terima kasih buat yang sudah mengkoreksi. *cendol jumbo mampir* 😀

Kali ini Dunia Bond Chan lagi ngomongin soal salah satu band yang lagi booming banget di Indonesia, yang sampe-sampe karena boomingnya, mereka sepertinya ga perlu untuk mempromosikan lagu-lagu mereka karena band mereka sudah dipromosikan dengan gratuit oleh K Lovers di seisi kolong negeri ini. Siapakah Mereka? Yup!!

Sm*sh adalah sebuah band yang terdiri dari Morgan Oey, Rangga Dewamoela S, Rafael, Dicky M Prasetya, reza anugrah, Muhammad Ilham Fauzi, dan juga Bisma Karisma. Boyband baru tanah air yang booming melalui singel mereka yang berjudul I Heart You ini digadang-gadang sebagai boyband peniru boyband korea macam Suju, Smash, dkk. Tak pelak,  kemunculan Sm*sh pun langsung dihadiahi bogem mentah dari para K lovers seindonesia raya.

Selain nama mereka yang cuma membuang huruf A menjadi tanda bintang sebagai pembeda mereka dengan band korea Smash, lagu mereka pun ‘dianggap’ meniru lagu-lagu korea. Gaya pun menjadi sasaran tembak untuk membuang tenaga menghina band yang baru aja bisa menikmati indahnya industri musik dalam negeri. Gaya Sm*sh yang dikata mirip band korea yang (maaf) lebih mirip bences itu pun dijadikan salah satu senjata garda depan mereka untuk membunuh tujuh personel Sm*sh demi pembuktian bahwa lagu-lagu dan gaya-gaya serta apapun yang ada di boyband atau girlband korea itu adalah sesuatu yang ternyata juga meniru. Hahahahahaahaha

Kenapa bisa begitu? Mari kita urai

Gaya band-band korea macam gimana sih?

COWOK :

  1. Pake kaos tanpa lengan
  2. Pake jaket
  3. Kaos biasa aja
  4. Pake Jas
  5. Make up lebay
  6. Oplas
  7. Rambut mohawk
  8. Rambut dicat blonde *mana ada orang barat sipit??* hahahahaha

CEWEK :

  1. Pake rok
  2. Pake celana jeans
  3. Hampir sama kayak cowok kali ya…

Kalau ada yang kurang boleh ditambahi di komentar ya, biar saya ga kelihatan kalo ga pernah merhatiin band Korea. 😀

Sekarang serius. Sebenarnya apa yang membuat mereka (para fans) menganggap Sm*sh sebagai band plagiat gaya korean? Padahal banyak juga kan band yang memakai gaya dan aksesoris yang mirip dengan mereka (band korea). Sebut saja yang mungkin memakai aksesoris bejibun kayak band korea itu : Project pop, teamlo. Kedua band itu sangat memungkinkan meniru gaya band korea itu. Dan kalau para fans korea itu mengerti, mereka harusnya memarahi band-band tersebut terlebih dahulu.

Sebenarnya kritik  pedas terhadap gaya yang meniru band korea ke band Sm*sh itu merupakan sebuah kelucuan yang terlalu mengada-ada. Kenapa? Coba deh berpikir sejenak, pemilik gaya sebenarnya itu siapa sih? Kenapa ada sebuah gaya itu adalah milik korea? Kenapa gaya itu milik jepang atau biasa disebut harajuku? Kenapa nyanyi sambil ngedance itu adalah hak milik band korea? Padahal kalau dipikir lagi, SUJU, SNSD, Smash itu adalah plagiat gaya yang lebih dulu ketimbang Sm*sh kalau boyband pertama di dunia yang terkenal macam NKOTB (New Kids On The Block) mematenkan bahwa gaya menyanyi mereka yang sambil ngedance itu adalah milik mereka.

Sudah jelas kan kebodohan tingkat tinggi pecinta K Lovers itu terhadap tindakan mereka menghina Sm*sh? Sekarang kenapa NKOTB dan fans tidak mengkritik atau mengatakan bahwa band macam F4 adalah plagiat gaya dari NKOTB? Karena mereka sadar, bahwa seni yang luas seperti itu hampir pasti tidak bisa dipatenkan.

Berbanggalah kalian para Sm*shblast karena telah saya dukung band kalian, dan saya bukakan mata buta K Lovers tolol yang telah menghina band kalian. Tapi satu yang jelas, saya bukan salah satu Sm*shBlast, saya hanya pecinta jazz dan salah satu orang yang menyukai semua lagu Indonesia selama lagu itu tidak mendayu-dayu melayu. 😀

Belum berhenti di gaya panggung saja saya sebenarnya mau bicara. Masih ada lagi yang masih mengganjal di otak saya soal kebodohan K Lovers. Apakah itu? Banyak yang berkata gaya berpakaian Sm*sh itu meniru band-band korea idola mereka?

Halo?? Kalau saya bilang gaya Suju meniru gaya Jacko, apa yang akan kalian katakan? Bahkan lebih parah lagi, mereka itu meniru seniman pertama kali di dunia yang menggunakan baju. Apa yang akan kalian katakan?

Berpakaian itu bukankah sebuah kebebasan pribadi? Dan tidak ada yang mendeskritkan bahwa gaya A adalah milik band A, dan tidak boleh ada yang meniru. Itu sebuah kebodohan tingkat tinggi jika gaya F adalah gaya yang boleh dipakai hanya untuk band korea saja. Bahkan, perancang desain sekalipun tak jarang juga memiliki kemiripan gaya. Dan mereka santai-santai saja. Yang jadi pertanyaan adalah : Gaya itu hampir bisa dibilang tidak ada yang tidak mirip. Saya sekarang memakai celana jeans, pakai kemeja, anda fans salah satu personel Suju dilarang mengatakan saya sebagai plagiat gaya salah seorang personel Suju tersebut yang setiap tampil selalu memakai celana jeans dan kemeja. (itu hanya contoh)

Sejauh yang saya tahu dan saya dapat, bahwasanya di Indonesia tidak ada hak paten terhadap gaya, yang ada baru hak paten terhadap Motif. Seperti yang terjadi pada batik. Jadi yang menganggap gaya berpakaian Sm*sh meniru band Korea, yang bodoh management Sm*sh atau yang menghina kalau gini? 😀 God only Knows..

Gabung yuk di fanpage Dunia Bond Chan..!!! Search aja di FB : Dunia Bond Chan.

The King’s Speech –Gagap yuk-


siang bond-bond, kali ini Dunia Bond Chan lagi dipenuhi oleh hal-hal yang umum-umum aja, mulai dari dua minggu lalu yang ngobrolin soal buku Digital fortress, lalu minggu lalu ngobrol soal Java Jazz Festival 2011, dan minggu ini buat pecinta hal-hal social di Dunia Bond Chan harus bersabar dulu karena kali ini tulisan saya ngomongin soal salah satu film peraih award di ajang Oscar 2010 kemarin. Yup, The King’s Speech.

Untuk sekdar tahu, tulisan ini saya buat beberapa menit setelah saya nonton filmnya. Jadi masih fresh from the studio lah bahasanya. Itung-itung menikmati siang di salah satu town square paling enak di Surabaya, enak juga kayaknya buat langsung nulis review filmnya. Sambil ditemani semriwing angin yang membawa mendung di saat ini di kota saya ini, plus segelas ice tea flavour grenadine (yang lebih suka saya bilang es sirup yang enak) 😀  di salah satu café di town square ini, saya persembahkan review film The King’s Speech. Selamat menikmati..!!! 😀

Cerita dimulai ketika raja George V wafat, sang penerus pun dicari. Dua anak lelaki raja, Duke York dan kakaknya pun masuk dalam satu diantara dua nominator terkuat penerus kekuasaan raja yang menguasai hampir semua wilayah jajahan Inggris tersebut.

Duke York junior adalah bocah yang merana. Dia dari umur 5 tahun harus mengalami sebuah hal yang dia sendiri yang menyebutnya sebagai sebuah penyakit. Yaitu Gagap. Kehidupannya sejak usia itu menjadi cukup suram. Dia merasa di nomor duakan dibanding kakaknya. Oleh pembantunya, oleh orang tuanya, oleh siapapun dalam kehidupannya kecuali istri dan anaknya sepertinya.

Sang kakak yang kabarnya karena kecanduan dengan rumah bordil di Shanghai, akhirnya memutuskan menikahi seorang janda bersuami dua demi jiwa sexnya semata. Dia sadar, dirinya adalah calon terkuat dibanding sang adik dalam menjadi raja diraja penerus. Namun dia juga sadar, bahwa diatas kekuasaan ada kebutuhan rohani yang ‘menurutnya’ hanya sang ratu yang akan dipinangnya yang akan mampu memenuhi.

Kerajaan bergolak jauh sebelum raja George V sakit keras hingga akhirnya harus meninggal. Pergolakan didalam kerajaan dikarenakan keputusan pangeran David untuk menikah dengan pasangannya yang notabene akan menjadi janda secepatnya demi dia. Padahal dalam kerajaan, raja yang juga akan menjadi kepala gereja dilarang keras untuk menikahi janda. Namunn sekali lagi, kebutuhan rohani masih diatas kekuasaan. Atau secara mudah bisa kita katakan : Kekuasaan bisa tunduk pada nafsu.

Raja George VI adalah raja baru setelah raja George V tiada untuk selama-lamanya. Siapakah raja George VI? Dialah pria gagap sedari umur 5 tahun : Duke York. Jelas dipilihnya dia sebagai penerus tahta sang ayah membuat pergolakan yang sebenarnya sudah muncul semenjak dirinya masuk sebagai kandidat raja pun semakin jelas berputar di otak dan pangkal lidahnya. Apa hubungan gejolak dalam otak dan pangkal lidahnya? Dan akan bagaimanakah Duke York menjadi raja, sementara dia adalah raja yang gagap karena mempunyai masalah dari usia 5 tahun?

Sebuah film pertama yang saya tonton di bioskop di tahun 2011. Yah, saya dari awal tahun bisa dibilang antara ga ada waktu. Atau pas ada waktu buat nonton film yang bagus sudah ga ada, juga bisa. Namun inilah keadaan saya. Tepat pada tanggal 14 Maret 2011 adalah tonggak awal *weleh* saya menonton film di bioskop di tahun kelinci ini.

Kalau mau ngomong soal nonton film, setiap hari hampir ga pernah absen saya nonton film. Karena dunia saya berada di sekitar film, namun rata-rata yang saya tonton ya film documenter atau indie yang tidak seberapa terkenal.

Film The King Spech ini adalah film yang membuat saya penasaran dalam ajang Oscar dan Golden Globe kemarin. Karena sekedar info, The King’s Spech meraih actor favorit di dua ajang tersebut. Cukuplah membuat saya penasaran, bagaimana acting sang pria gagap satu ini dan tentunya bagaimana film ini berjalan.

Kata-kata awal yang terungkap dari saya ketika sudah ada tulisan “diterjemahkan oleh bla bla bla” adalah : film ini bermain dengan segmental namun terlalu panjang.

Yah, begitulah penilaian saya. Dengan durasi lebih dari dua jam, hanya demi bergulat dengan cara menghilangkan gagap dengan sedikit memberi sentuhan masalah sang kakak dan hal-hal lain, film ini terasa sangat lama dan kalau boleh sedikit kasar, saya akan menambahkan : membosankan.

Bukan tanpa alasan saya berkata fim ini secara kasar “membosankan”. Namun, kelakuan saya yang menonton film ini seorang diri yang mulai dari memainkan rambut, ngangkat kaki ke kursi depan, sampai mau baca buku Pramoedya Ananta Toer yang sulit dicerna pun saya lakukan. Namun jelas yang terakhir ga saya lakukan, karena saya mendadak ingat : saya membayar uang 20.000 demi menonton film ini, bukan untuk membaca buku di sini.

Film ini terasa kurang menyenangkan karena bisa dibilang terlalu berkutat pada hal yang diputar-diputar-diputar dan diputar lagi. Padahal seharusnya ada hal yang jauh lebih menarik yang bisa diambil atau dijelajahi dari kasus raja George VI dengan gagapnya. Atau bolehlah kalau berani, mengambil politiknya bak setitik.  Semua itu agar film ini terasa tidak membosankan.

Kurang masuknya rasa frustasi dari Bertie dalam menghadapi masalah gagap dan masalah depresinya, membuat saya kurang sreg dengan apa yang didapat Colin Firth dalam Oscar. Walaupun bolehlah gagapnya lebih sempurna dibanding Azis Gagap, tapi tidak permainan depresinya pun hendaknya tidak dimasukkan dalam hal ke empat atau kelima jauh dibawah gagapnya.

Para actor dan aktris pembantu film ini bermain cukup bagus meskipun kurang mendapat porsi lebih dalam pendalaman karakter. Jadi terasa hanya bermain acting biasa. Namun bolehlah diacungi jempol untuk pengambilan gambarnya yang bagus.

Kesimpulan terakhir untuk film The King’s Speech cukup recommended sebagai salah satu film yang bisa ditonton sebagai hiburan. Namun untuk anda yang tidak suka dengan drama yang berbelit-belit, belilah coffee atau green tea pekat untuk mengganjal mata anda agar tidak tertutup di tengah film ini. Point akhir film ini : 7.5/10.

Jangan lupa gabung di fanpage Dunia Bond Chan!!! Search di facebook kalian “Dunia Bond Chan” dan kalian akan berkumpul bersama pembaca setia Dunia Bond Chan. Di Fanpage Dunia Bond Chan, kalian boleh ngomong apa aja tentang sesuatu hal yang mendasar, boleh ngasih saran soal Dunia Bond Chan, boleh juga request tulisan atau memberi tulisan buat dimuat di Dunia Bond Chan.

Khusus yang ngasih tulisannya di Dunia Bond Chan dan dimuat, akan dapet imbalan dari Dunia Bond Chan. So, nunggu kapan lagi?

Upin Ipin dan Persahabatan


Halo Bond-Bond..!!! Udah seminggu lebih nih Dunia Bond Chan ga ada tulisan baru ya?? Sabar.. Sebenarnya ada dua tulisan paling update, tapi di laptop.. 😀 Sementara saya bukanlah tipe manusia yang suka (ingat) membawa flashdisk. Akhirnya, begini deh.. Tulisan yang udah tinggal di copas dan diterbitkan, akhirnya harus ngadat.. Maafkan.. *nyembah*

Kali ini Dunia Bond Chan balik ngobrolin soal hal-hal yang bisa dibilang berbau sosial. Apa itu? Nyanyi dulu enak nih, apalagi Surabaya hari ini lagi mendung-mendung menggoda gitu.. *apa’an ya?* yukk maree..

Padi – Sahabat Selamanya

Dua tiga kapal berlayar di samudera
ayo sahabatku kita bergembira
Bermain bernyanyi bersama
menikmati indahnya dunia

*
Sahabat untuk selamanya
Bersama untuk selamanya
Kau dan aku sahabat
Untuk selamanya setia

Sahabat untuk selamanya
Atasi semua perbedaan
Kau dan aku sahabat
Untuk selamanya… Selamanya setia

Berakit-rakit kita ke hulu
berenang ke tepian
kita berbeda untuk saling mengisi
segala kekurangan kita

Tahu dong lagu itu? Udah lama juga sih sebenarnya lagu itu keliling di radio ato di tv Indonesia, tapi saya baru nyadar tentang satu hal dari lagu itu. Apakah itu?

Upin-Ipin adalah karakter kartun buatan Les’ Copaque yang sebenarnya disiarkan untuk acara ramadhan. Namun karena animo yang tinggi, dibuatlah secara umum atau massal. TV9 Malaysia pun bak kejatuhan durian runtuh dengan adanya Upin Ipin ini.  Dari awal penayangannya, Upin Ipin sudah mendapat tempat khusus di hati penonton Malaysia. Hebohnya dua bocah botak ini juga menarik animo lebih di negeri tetangga. Mulai Indonesia, sampai Turki. Ya,rakyat  negara berlambang bulan dan bintang itu pun ikut demam kartun Malaysia satu ini.

Kepolosan, kelucuan, dan kejujuran, serta kesedarhanaan tidak bisa kita jauhkan dari hampir semua karakter di kartun Upin-Ipin. Setiap segmen yang berdurasi 5 menit dan setiap episode berisi tiga segmen dengan cerita berbeda tersebut, memang selalu mengutamakan beberapa hal yang sudah saya sebutkan di awal. Bagi anak-anak, itu menjadi sebuah hal yang baru bagi mereka. Bagi orang tua, itu menjadi hal yang menyenangkan. Karena mereka bisa mengajari anak dengan lebih mudah lewat tontonan yang sudah tiga tahun lebih berkiprah di Asia ini.

Kelucuan Upin Ipin pun menginspirasi group band Padi untuk membuat soundtrack bagi kartun satu ini. Lagu yang berjudul “Sahabat Selamanya” ini menjadi hits di radio dan TV di seisi kolong jagat Indonesia. Liriknya yang mudah dicerna, musiknya yang asik, dan makna persahabatannya yang pas dan memang menjadi penyegaran diluar lagu-lagu anak muda jaman sekarang yang lebih suka mengeksplor tentang lemahnya pria terhadap cinta atau kalau Sule berkata “Susis” yang begitu memuakkan telinga. Lagu terbaru Padi ini pun langsung boom dengan seketika, sama boomingnya dengan kartun Upin Ipin ketika tayang pertama kali. Namun ada yang tahu? Lagu tema persahabatan yang digunakan untuk soundtrack Upin Ipin ini sedikit membuat saya garuk-garuk kepala kalau memikirkannya. Kenapa? Kalau kita katakan upin ipin ini hanya sekedar kartun menjelang berbuka puasa atau apalah kata yang simpel untuk mengungkapkannya, namun memiliki kekuatan tersendiri dalam pembentukan karakternya.

Saya sedikit bingung hubungan Upin Ipin dan lagu persahabatan yang dibuat oleh Padi. Namun saya baru sadar, bahwa ternyata di Upin Ipin ini ada berbagai macam karakter yang ringan, namun berhasil menutup hal-hal kecil yang menghasilkan sebuah cerita yang lebih luas ketimbang sekedar membicarakan dunia anak-anak semata. Beberapa karakter yang ada di Upin Ipin antara lain :

  1. Mei Mei yang imut dan berkepribadian cerdas
  2. Jarjit Singh yang gemar membuat humor dan membuat pantun
  3. Ehsan yang suka menyendiri, cerewet dan suka makan
  4. Fizi (sepupu Ehsan) yang penuh keyakinan diri tetapi suka mengejek orang lain
  5. Mail yang berkemampuan untuk berjualan, suka melamun dan mengantuk karena ia berjualan ayam semalam dan pandai berhitung.

Dan inilah beberapa karakter dewasa di Upin Ipin yang membuat lengkap suasana di kartun tersebut :

  1. Isnin bin Khamis yang lebih dikenal bernama Tok Dalang sang ahli wayang kulit
  2. Muthu, pedagang makanan yang tinggal bersama anaknya Rajoo dan sapi peliharaannya yang bernama Sapy
  3. Saleh, seorang banci yang senang berkata kasar
  4. dan Ah Tong, pengirim tanaman yang pandai berbicara

Beberapa karakter diatas mempunyai sifat yang berbeda, dan siap dijadikan bahan masalah untuk setiap segmen di kartun Upin Ipin.  Masalah dari setiap karakter tersebut, membuat kampung Durian Runtuh menjadi penuh warna. Dan bocah-bocah Durian runtuh yang berusaha mencari apa solusi dari tiap masalah mereka pun membuat sebuah persahabatan yang bisa dibilang ga kalah dengan yang ada di rata-rata kartun atau acara anak-anak lainnya. Maka tak salah kalau Padi pun pada akhirnya bisa menciptakan sebuah lagu yang enak didengar baik dari segi musikalitasnya dan dari segi liriknya.

Akhir kata : Sahabat untuk selamanya Bersama untuk selamanya Kau dan aku sahabat Untuk selamanya setia. Selamat bersahabat!!! 😀

Gabung yuk di fanpage Dunia Bond Chan di Facebook..!!! Search di FB : Dunia Bond Chan. Ditunggu ya..!!!

Java Jazz : Naik Haji Untuk Penggemar Jazz


Siang Bond-Bond.. Surabaya panasnya beuuhh.. Mungkin lucu juga judul tulisan saya kali ini. Yah, kalian boleh ngomong ini hanya euforia gila saya dengan Java Jazz Festival yang barusan saya tonton kemaren Sabtu (cuma sabtu doang) atau apalah, tapi yang jelas : ini sungguh dari lubuk hati saya yang paling dalam.. 😀 Semoga tulisan saya kali ini bisa memberikan sebuah gambaran kecil yang tidak diperhatikan tapi benar adanya kalau dipikirkan.. So, nikmati tulisan di Dunia Bond Chan soal Java Jazz Festival!!!! 🙂

Java Jazz Festival atau biasa disingkat JJF ini memang event tahunan dari awal tahun milenium ini. Jakarta khususnya dan Indonesia umumnya menjadi saksi bisu pagelaran festival jazz terbesar di dunia!!! Dan menurus saya ini memang bukan sebuah hiperbola atau apa, tapi memang beginilah adanya. Lebih dari sepuluh panggung per hari dijadikan kandang bagi musisi jazz kelas dunia untuk menggila. Kebetulan tahun ini adalah tahun pertama saya nonton JJF setelah bermimpi bisa nonton dari tahun 2008. Banyak ekspektasi saya tunggu dari JJF 2011 ini. Mulai dari kegilaan musisi yang bakal merongrong isi telinga dan batin saya yang sudah lebih dari setengah tahun tidak menikmati konser jazz, sampai berharap kedatangan band favorit saya : CASIOPEA dan FOURPLAY.

Sialnya, java musikindo sebagai penggagas acara hanya mewujudkan impian saya dengan didatangkannya fourplay walaupun saya ga bisa nonton karena jadwal harinya yang tidak bisa diganggu gugat. 😦 Tapi kegilaan musisi yang sudah jadi ekspektasi saya dari dulu terhadap java jazz ternyata dipenuhi oleh panitia JJF 2011 ini.

Band-band,penyanyi dan musisi jazz dari luar dan dari dalam negeri semua dikumpulkan demi tiket seharga 350rb untuk daily pass, dan 650rb untuk special event yang mendatangkan salah satu gitaris terbaik dunia : SANTANA

Diluar kegilaan Java Jazz yang sudah gila dari awal tahun kemunculannya, terselip pernyataan dalam hari kecil saya. Java Jazz bak berangkat naik haji bagi pecinta jazz di Indonesia khususnya. Bukan tanpa alasan saya berkata begini, karena acara ini memang sangat sangat jazz sekali.. Mulai dari artis yang main, sampai tata tempatnya, real festival atau bisa dikatakan pesta bagi pecinta jazz di Indonesia. Rasanya tidak klop kalau berkata sebagai pecinta jazz tapi tidak menonton java jazz..

Lebih dari sekedar festival berkumpulnya bagi pecinta jazz yang sudah haus akan improvisasi gila dari musisi jazz kenamaan, acara ini adalah ajang untuk saling bertukar info, belajar skill dari para jazzer kelas dunia.Karena dalam acara ini, ada coaching clinic dari banyak musisi dari tahun ke tahun.. Oleh karena itu, tak salah otak lebay saya berkata Java Jazz Festival sebagai lambang naik haji bagi pecinta Jazz Indonesia bahkan dunia.

Bahkan tiket yang terjangkau serta isi yang lebih dari harganya (menurut saya) membuat acara ini pantas kalau dinanti oleh ribuan penonton setiap harinya. Namun ada sedikit tips buat bond-bond yang mau nonton Java Jazz tahun depan, siapkan uang lebih banyak untuk nonton special event nya. Karena tahun ini saya merasa rugi, dengan tiket hanya 350rb saya hanya bisa nonton yang biasa. Sementara dengan menambah 300rb lagi, saya bisa menonton yang bisa didapatkan oleh pemegang daily pass dan bisa menonton untuk special event nya. Tapi apapun pilihannya, yang jelas java jazz tetap menghadirkan kualitas yang terbaik dengan harga yang miring.. Trust me.. 😀

Sedikit ngomong soal JJF tahun ini, buat bond-bond yang ga punya uang atau kehabisan tiket buat nonton Santana, masih bisa dipuaskan oleh kehadiran GEORGE DUKE. Jujur ini kali pertama saya ngeliat George Duke setelah selama ini cuma bisa denger lagu2nya doang.. Dan dari penampilan kemaren, George Duke yang ‘bertengkar’ hebat sama JJF all star mampu menjadi pemanasan sebelum nonton Santana, dan bisa jadi pemuas dahaga atau penyeka air mata bagi yang ga bisa nonton Santana di JJF 2011.

Akhir kata, puas banget sama JJF 2011 ini. Dan seperti yang tertulis di update status di facebook yaitu “satu ungkapan untuk java jazz 2011 : ga sabar nunggu java jazz 2012..”

Selamat datang Java Jazz Festival 2012!!!! Saya akan datang!!!!!!!

 

Ngasih gambar dulu ahh.. Buat yang ga bisa nonton tahun ini jangan ngiler ya..!! 😀