Selamat Ulang tahun Surabaya part 4 –Cinta, Keindahan, dan Sunset di Danau Cinta-


Danau cinta, jarang orang Surabaya yang menyadari tempat wisata satu ini. Salah satu tempat wisata yang terlahir tanpa disengaja ini, telah menjadi salah satu jujukan wisata murah meriah terbaru bagi masyarakat Surabaya yang berada di wilayah barat.

Namanya memang terlihat unik. Namun jangan dianggap nama ini adalah pemberian dari orang tertinggi di kota ini. Karena nama ini terlahir sendiri sama halnya dengan ‘kegunaan’ dari danau buatan ini. Kata cinta yang dipakai sebagai nama lebih bisa dianggap sebagai sebuah kesan buruk dari danau ini. Danau yang diperkirakan terlahir sekitar lima sampai enam tahun yang lalu ini, terkenal dikarenakan sebagai tempat untuk muda-mudi beradu cinta. Karena kegunaan yang kurang pas tersebut, ditambah tidak adanya nama untuk danau ini, hingga para pelanggan setia danau ini menamakannya sebagai Danau Cinta.

Nama buruk yang diemban danau indah satu ini sebenarnya memiliki keunggulan tersendiri yang disajikan khusus untuk penikmatnya. Selain suasana danau yang murah meriah, danau ini menyimpan keindahannya di kala matahari tenggelam di ufuk barat. Ditemani gemercik air yang tenang, angin yang tidak pernah sepi menerpa tubuh kita membuat tempat ini memiliki keistimewaan dibanding beberapa tempat wisata gratis di kota ini. Jalanan di sebelah danau yang cukup lebar untuk dipakai lintasan F1 membuat orang yang berada di sana tidak akan merasa gerah walaupun matahari di atas kepala kita. Dan dengan atau tanpa uang, kita pun bisa ‘ngiup’ (berteduh) di tenda-tenda yang disediakan secara free dari para penjual es dan makanan ringan di pinggiran danau yang berukuran 1 hektare ini.

Penjual jajanan mulai dari minuman dingin, minuman bersoda, sampai minuman panas macam kopi pun bisa kita nikmati mulai siang menjelang hingga sebelum matahari muncul ke permukaan. Dahulu sebenarnya danau ini hanya digunakan para pemancing kecil-kecilan. Namun semakin lama, melihat semakin banyaknya pemancing di danau ini, membuat para penjual es keliling ikut memancing rezeki dari tenggorokan pemancing danau yang mempunyai nama lain Danau Unesa ini. Melihat keluh kesah para pemancing yang merasa kepanasan setiap siang menjelang, pemancing tenggorokan part 2 pun muncul. Mereka adalah orang-orang yang mulai sengaja membuka stand dadakan di pinggir danau lengkap dengan tenda kecil-kecilan yang membuat para pemancing tidak kepanasan. Semakin lama, ikan semakin berkurang dan para pemancing hanya melakukan hobinya ketika selesai hujan hingga banjir besar datang. Dimana itu merupakan tanda lucky draw mereka diuji di danau yang mempunyai view terbagus dari seluruh danau di Surabaya ini. Tuhan memang adil, pemancing sudah mulai jarang datang, orang-orang yang kehausan dan kelelahan di jalan pun mulai suka mendatangi tempat ini. Hingga akhirnya penjual semi permanen pun tetap bertahan lengkap dengan tendanya.Waktu pagi, banyak orang tua, muda mudi, dan anak anak yang mampir ke danau ini hanya untuk sekedar melepas penat sehabis jogging dan menyambut sinar mentari memandikan tubuh mereka dipagi hari. Tak banyak juga orang yang mampir sekedar untuk membeli makanan pagi seperti nasi pecel yang kerap menjadi hidangan favorit dipagi hari dan sekedar untuk menikmati keindahan danau di kala mentari mulai menunjukkan keagungannya. Apalagi ketika sore, banyak pasangan yang mengajak anak-anaknya ke danau ini sekedar untuk berwisata dan menunggu saat matahari pergi dari pelupuk mata mereka sembari bercengkerama berbagai hal.

Malampun menjelang. Suasana tidak beranjak sepi, namun terasa semakin ramai bak malioboro di jogjakarta, tempat ini pun berubah, dari sebelumnya menjadi tempat bagi para keluarga melepas sang lelah, menjadi arena berkumpul dan bercengkrama bagi muda-mudi Surabaya. Tempatnya yang remang-remang tak jarang dijadikan obyek bagi muda-mudi nakal untuk berbuat sesuatu yang merusak keindahan danau ini. Berulang kali penggerebekan, tak membuat mereka jera untuk kembali “menggunakan” danau yang seharusnya bisa dipakai sebagai tempat wisata oleh pemkot Surabaya ini.

Semak belukar yang menghiasi danau inipun menjadi arena kejantanan bagi para remaja labil untuk berbuat sesuatu yang tidak seharusnya. Namun kurangnya perhatian pemerintah, ditambah bingungnya kepemilikan atas danau ini pun membuat hal seronok itu terus terjadi sampai detik ini. Namun satu yang jelas, Danau Cinta atau Danau Unesa tetap menyimpan eksotisme yang telah diberikan tuhan dan sepatutnya pemerintah kota Surabaya bersyukur pada yang kuasa atas pemberiannya berupa danau ini. Dan tak lupa mereka pun harus beterima kasih pada para penjual yang telah berjualan dari pagi hingga pagi lagi yang telah ikut membantu membuat bersih dan membuat tempat ini mampu menjadi sebuah tempat wisata ditengah ketidak jelasan kepemilikan Danau Cinta.

Bond Chan

Berikut adalah gambar-gambar dari danau cinta. Maaf kalo rada jelek. Pake kamera hape sih..😀

5 thoughts on “Selamat Ulang tahun Surabaya part 4 –Cinta, Keindahan, dan Sunset di Danau Cinta-

  1. ajak donk pam kesana😀

    ikut komen dikit…. ya itulah Pemerintah kita suka telat merespon… suka gak perhatian pada hal2 seperti ini padahal kalau di kelola lebih baik lagi bakal datengin manfaat yg besar buat masyarakat disana.

    • waduh.. hehehehehe..

      sebenarnya antara masih masuk antrian atau mungkin emang ga diurus. kalo masuk antrian buat dijadikan taman emang mungkin sih.. karena pemkot surabaya kan sekarang lagi doyan bikin taman. kalo ga diurus, bisa jadi juga sih.. masalahnya tanahnya siapa juga ga jelas.. antara milik unesa sama milik pemerintah..

  2. Ping-balik: Selamat Ulang Tahun Surabaya Part 5 -Tanggung Jawab Ibu Kota- « Dunia Bond Chan

  3. kurang pohonnya, harusnya dibuat railing agar ada pemissah han dgna jalanan.. itu rumput2nya tolong si bersihin

    hehehe

    • mungkin pemkot surabaya lagi ngantri bikin taman di surabaya. semoga danau cinta kalo (emang) diperbaiki semga jadi tambah bagus dan berubah nama… hehehehehe..😀

      makasih udah mampir mbak nunu..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s