Beruntungnya Kita yang Lahir Ditahun 90an


Tulisan kali ini sih sebenernya request dari salah satu temen di forum yang biasa saya hinggapi. Dia request tulisan tentang perbedaan anak kecil jaman 90an sama jaman milenium. Setelah dipikir-pikir dengan serius, inilah dia.. Selamat membaca dan terima cendol buat yang udah request.. 😀

Dahulu atau lebih tepatnya tahun 90an, Indonesia pernah digemparkan oleh anak-anak yang dengan perjuangan serius, dengan latihan yang tentunya tidak mudah menjadi idola. Rata-rata dari mereka mempunyai bakat di bidang menyanyi. Sebut saja nama : bondan prakoso, joshua, Trio kwek-kwek, maisy, tina toon, dan masih banyak lagi lainnya. Bagi kalian yang lahir pada dekade 90an pasti ga asing dengan nama-nama itu bukan?? Bahkan ga jarang masih hapal dengan lagu-lagu mereka. Dan ga sedikit juga yang pernah ngefans dengan salah satu atau salah dua dari penyanyi cilik yang saya sebutkan bukan?? Meskipun waktu itu pun tanpa sadar, artis cilik itu anda sandingkan dengan boyzone, westlife, dan boyband atau band luar juga sama halnya dengan anak-anak jaman sekarang. Namun sadar ga kalau jaman dulu bagi cewek-cewek khususnya pernah berkata wow gantengnya si a atau semacamnya?

Sebuah pertanyaan yang sebenarnya baru saya sadari saat saya yang sebentar lagi menginjak usia 21 tahun ini. Sebenarnya bukan sebuah hal yang penting untuk dicari tahu kenapa, tapi jawaban itu juga sebenarnya cukup sulit dijawab jika coba ditelaah. Sekarang coba jawab pertanyaan satu ini : kenapa joshua bisa terkenal pada masanya? Karena keluguannya atau karena gantengnya? Jika anda memutar otak menjadikan otak anda seperti masih masa kanak-kanak, jawabannya tentu karena lugunya dan suaranya yang emang merdu. Lalu pertanyaan berikutnya adalah : kenapa anda suka dengan Nsync waktu masih kecil dulu? Karena lagunya enak atau karenawajah personelnya yang ganteng? Silahkan dijawab sendiri. 🙂

Sulit dijawab? Hampir pasti semua setuju sulit dijawab. Kenapa ya??

Tapi satu yang jelas, keikut-ikutan *bahasa yang kacau :D* atau kalo boleh dikatakan latahnya anak-anak membawa mereka memiliki dua bentuk berbeda dan membuat kita sendiri kebingungan kenapa kita dulu seperti itu. Namun, itulah enaknya kita yang tercatat sebagai anak-anak angkatan 90an. Kenapa?

Memasuki tahun milenium, idola anak-anak mulai mengalami titik jenuh. Entah mulai kapan dan mengapa titik jenuh tersebut tapi satu yang jelas setelah masa berlalunya tasya, anak-anak milenium nyaris tidak pernah mengerti siapa idola mereka yang seumuran. Yang mereka tahu hanya linkin park dengan screamnya yang memekakkan telinga, sheila on 7 yang sedang digandrungi kakak mereka atau teman sepermainan yang usianya lebih tua. Jangan dikira mereka senang dengan keadaan itu. Karena dimasa milenium inilah anak-anak seperti penghirup rokok pasif. Mau tidak mau, suka tidak suka mereka hanya bisa dijejali. Siapa bilang dari kecil mereka suka dengan lagu cinta-cintaan itu. Tapi mau bagaimana lagi, pemikiran mereka belum sanggup mencari sendiri jawaban dari pertanyaan : lagu apa yang cocok untuk saya? Kasihan mereka.

Oleh karena itu, berbanggalah anda yang saat ini sudah merasa cukup tua karena berusia diatas sweet seventeen bahkan sudah berkepala dua. Karena ketika otak anda yang kecil dulu mulai mencari apa yang bagus saya dengarkan sebagai hiburan, anda sudah menemukannya. 

Salam Bond Chan

Kerupuk. Kenapa Begitu Nikmat?


Kerupuk. Ya, orang Indonesia umumnya pasti mengenal makanan satu ini. Sebenarnya kerupuk adalah sebuah makanan yang terbuat dari tepung tapioka dicampur dengan air lalu digoreng hingga kering. Namun semakin modern sebuah jaman, semakin saru definisi asli dari kerupuk itu. Karena keripik pun bisa berubah nama menjadi kerupuk sesuai dengan mood pemakan. Contoh : kerupuk jebung. Padahal hanya ikan jebung yang digoreng hingga kering, lalu dihidangkan. Tidak ada tepung tapioka, tidak ada air. Namun namanya menjadi kerupuk. 😀 Walaupun masih tetap ada yang secara tidak langsung membuat sebuah paten bahwa kerupuk satu ini tidak bisa berganti nama menjadi keripik jika mood pemakan sedang ingin mengatakan keripik. Kerupuk apakah itu? Kerupuk Udang. *lol

Kerupuk sepertinya menjadi penganan yang ga mengenal jaman. Entah kapan lahirnya kerupuk ini, namun bagi orang Indonesia, kerupuk bagaikan sauce steak di makanan seperti rawon, soto ayam, dan makanan bersantan. Kenapa bisa begitu? Karena sebuah kerupuk adalah pelengkap yang lebih dari sekedar pelengkap. Padahal sadar atau tidak, kerupuk yang biasanya kita makan untuk teman makanan diatas rasanya hanya asin bukan? Beda lah kalau kita sebut makanan atau camilan lain yang memiliki rasa asin dengan sedikit manis atau gurih. Kerupuk ini kan hanya asin rasanya. Tapi, peracik bumbu soto, rawon, masakan padang akan merasa seninya dalam memasak kurang dihargai jika yang makan tidak menemukan kerupuk untuk teman makan. Dahsyatnya kerupuk!! 😀

Kerupuk sejauh pengamatan saya yang most wanted adalah kerupuk putih. Kerupuk ini selalu tidak bisa dilepaskan dari makanan khas Indonesia. Dan serunya, kerupuk ini adalah kerupuk yang masuk kategori kerupuk dahsyat yang mampu membuat hasil keringat dan hasil pemikiran koki masakan asli Indonesia bisa dihujat karena kurang barang satu ini. Selain juga kerupuk udang  dan keripik emping.

 Menjadi sebuah pertanyaan bagi saya pribadi sebagai penikmat kuliner Indonesia, siapa yang memulai semua ini?? Apakah ia tidak kasihan pada para peracik yang jelas tidak mudah mencampur bumbu-bumbu itu namun pada saat dimakan tanpa kerupuk, makanan itu kurang dihargai. Sebuah ironi yang lucu, namun nyata dan inilah keindahan Indonesia!!! Hanya karena sebuah kerupuk, makanan bisa dihargai setinggi puluhan ribu rupiah, dan karena kerupuk pula makanan yang nikmat lebih pantas dihargai seribu rupiah. Semua karena satu barang yang jika beli satu biji harganya 500, dan jika beli 3 harganya 300 rupiah. 🙂

 

 

Bond Chan

Pasar Asem, Riwayatmu Dalam Hitungan Hari


Pasar Simo Margersari kelurahan Simomulyo, kecamatan Sukomanunggal, Surabaya, Jawa Timur. Sebuah pasar yang tidak banyak orang yang mengenal. Jangankan orang Surabaya dari wilayah selain Surabaya Barat. Orang yang bertempat tinggal sekitar 50 meter dari pasar tersebut pun baru mengenal nama itu sebagai pasar Simo Margersari. Sebelumnya, saya sendiri lebih mengenal nama pasar ini sebagai pasar asem. Entah kenapa dinamakan pasar asem. Namun yang jelas, nama pasar asem lebih familiar di telinga saya dibanding pasar Simo Margersari. Sebuah pasar yang buat saya dan buat orang berada dalam radius 1-20 km dari pasar tersebut bisa disejajarkan dengan pasar Keputran ini adalah pasar yang selalu siaga 24 jam. Ya, pasar ini memang tidak pernah tutup. Dan sekali lagi, saya sendiri sejak tahun 19 Desember 1990 hingga 4 november 2011 ini tidak mengerti kenapa pasar ini buka 24 jam. 🙂

Pasar asem sejak dulu memang memiliki lahan yang tidak cukup besar untuk ukuran sebuah pasar, apalagi untuk pasar yang buka 24 jam sehari, tujuh hari seminggu, dan empat minggu dalam sebulan. Namun sekali lagi ini menjadi rahasia hingga beberapa hari kedepan pasar ini akan raib ditelan bumi. Sebenarnya pasar ini mempunyai lahan semacam bangunan berlantai dua. Namun sejak saya sudah bisa berkunjung ke pasar ini pertama kalinya, bangunan itu pun sepertinya sudah tidak menarik perhatian pedagang dan pembeli (sepertinya). Hingga akhirnya, pinggir jalan Simo Margersari yang hanya cukup untuk 4 mobil dan dua motor pun menjadi incaran para penjual yang ingin mengadu nasib di pasar satu ini. Hingga akhirnya, 3 November 2011 penghuni lapak di pinggir jalan Simo Margersari harus rela mencari uang di tempat lain untuk tetap hidup. Namun itu semua dilakukan demi kelancaran traffic dari dan menuju Simo Margersari.

Sudah ada beberapa bulan ini sungai di wilayah Simo Margersari diberi box culvert agar jalan yang diperuntukkan empat mobil dan dua sepeda motor untuk satu jalannya itu bisa dipakai oleh orang yang memulai perjalanannya dari wilayah Simo Kalangan, atau dari Simo Jawar dll. Sehingga Box Culvert bisa diperuntukkan oleh pengguna jalan dari wilayah petemon yang akan ke wilayah Simo Gunung kramat, atau pengguna kendaraan dari wilayah Girilaya dan Wonorejo dan Kedung Doro. Berjalan hampir setahun, dan proyek Box Culvert sudah selesai setengah jalan, dimulailah pengunaan jalan box culvert yang sesungguhnya. Karena itu, penjaja sayur, penjaja ikan, penjaja buah yang biasa bermukim di kanan kiri jalan Simo Margersari harus mengeksekusi barang dagangannya ke tempat yang seharusnya, atau barang mereka di eksekusi oleh pihak berwajib.

Sedih sebenarnya melihat pasar Asem atau pasar Margersari ini harus kembali memakai wilayah asli mereka yang sesuai izin dari pemerintah kota. Ditambah, pemerintah belum juga menemukan -bahkan mencarikan- tempat berdagang baru bagi puluhan pedagang yang diusir demi kelancaran lalu lintas. (Jawa pos, 4 November 2011)  Dulu sempat ada kabar mereka akan dipindahkan ke pasar modern di puncak darmo. Namun proyek pasar modern tersebut sejauh ini hanya berupa meratakan tanah dan membakar ilalang serta menaruh alat-alat proyek saja. (4 November 2011 pukul 13.00) Dengan semakin tidak jelasnya proyek pasar modern itu, berkorelasi dengan nasib para pedagang pasar asem beberapa hari kedepan. Mereka (pedagang) boleh yakin dengan kucing-kucingan mereka. Karena keyakinan mereka dikuatkan dengan tetap loyonya Satpol PP terhadap pedagang di Keputran. Namun sampai kapan?? Dan kenapa pemerintah kota Surabaya tidak kasihan melihat mereka???

Dan kini, pasar keputran mini itu berada dalam hitungan hari lagi. Kita tinggal menunggu hari untuk melihat pasar ini punah, bahkan terlupakan oleh pengguna kendaraan di jalan Simo Margersari dikemudian hari. Namun walaupun begitu, tak cukup pantas jika kita berkata selamat tinggal kepada pasar asem. Karena pasar ini masih memiliki teritorial yang bahkan masih tercatat sebagai pasar PD Surya. Tapi cukup pantas jika kita berkata, Selamat menghitung hari untukmu pasar Asem. Pasar Keputran bagi warga Surabaya barat.

-Bond Chan-