Pasar Asem, Riwayatmu Dalam Hitungan Hari


Pasar Simo Margersari kelurahan Simomulyo, kecamatan Sukomanunggal, Surabaya, Jawa Timur. Sebuah pasar yang tidak banyak orang yang mengenal. Jangankan orang Surabaya dari wilayah selain Surabaya Barat. Orang yang bertempat tinggal sekitar 50 meter dari pasar tersebut pun baru mengenal nama itu sebagai pasar Simo Margersari. Sebelumnya, saya sendiri lebih mengenal nama pasar ini sebagai pasar asem. Entah kenapa dinamakan pasar asem. Namun yang jelas, nama pasar asem lebih familiar di telinga saya dibanding pasar Simo Margersari. Sebuah pasar yang buat saya dan buat orang berada dalam radius 1-20 km dari pasar tersebut bisa disejajarkan dengan pasar Keputran ini adalah pasar yang selalu siaga 24 jam. Ya, pasar ini memang tidak pernah tutup. Dan sekali lagi, saya sendiri sejak tahun 19 Desember 1990 hingga 4 november 2011 ini tidak mengerti kenapa pasar ini buka 24 jam.🙂

Pasar asem sejak dulu memang memiliki lahan yang tidak cukup besar untuk ukuran sebuah pasar, apalagi untuk pasar yang buka 24 jam sehari, tujuh hari seminggu, dan empat minggu dalam sebulan. Namun sekali lagi ini menjadi rahasia hingga beberapa hari kedepan pasar ini akan raib ditelan bumi. Sebenarnya pasar ini mempunyai lahan semacam bangunan berlantai dua. Namun sejak saya sudah bisa berkunjung ke pasar ini pertama kalinya, bangunan itu pun sepertinya sudah tidak menarik perhatian pedagang dan pembeli (sepertinya). Hingga akhirnya, pinggir jalan Simo Margersari yang hanya cukup untuk 4 mobil dan dua motor pun menjadi incaran para penjual yang ingin mengadu nasib di pasar satu ini. Hingga akhirnya, 3 November 2011 penghuni lapak di pinggir jalan Simo Margersari harus rela mencari uang di tempat lain untuk tetap hidup. Namun itu semua dilakukan demi kelancaran traffic dari dan menuju Simo Margersari.

Sudah ada beberapa bulan ini sungai di wilayah Simo Margersari diberi box culvert agar jalan yang diperuntukkan empat mobil dan dua sepeda motor untuk satu jalannya itu bisa dipakai oleh orang yang memulai perjalanannya dari wilayah Simo Kalangan, atau dari Simo Jawar dll. Sehingga Box Culvert bisa diperuntukkan oleh pengguna jalan dari wilayah petemon yang akan ke wilayah Simo Gunung kramat, atau pengguna kendaraan dari wilayah Girilaya dan Wonorejo dan Kedung Doro. Berjalan hampir setahun, dan proyek Box Culvert sudah selesai setengah jalan, dimulailah pengunaan jalan box culvert yang sesungguhnya. Karena itu, penjaja sayur, penjaja ikan, penjaja buah yang biasa bermukim di kanan kiri jalan Simo Margersari harus mengeksekusi barang dagangannya ke tempat yang seharusnya, atau barang mereka di eksekusi oleh pihak berwajib.

Sedih sebenarnya melihat pasar Asem atau pasar Margersari ini harus kembali memakai wilayah asli mereka yang sesuai izin dari pemerintah kota. Ditambah, pemerintah belum juga menemukan -bahkan mencarikan- tempat berdagang baru bagi puluhan pedagang yang diusir demi kelancaran lalu lintas. (Jawa pos, 4 November 2011)  Dulu sempat ada kabar mereka akan dipindahkan ke pasar modern di puncak darmo. Namun proyek pasar modern tersebut sejauh ini hanya berupa meratakan tanah dan membakar ilalang serta menaruh alat-alat proyek saja. (4 November 2011 pukul 13.00) Dengan semakin tidak jelasnya proyek pasar modern itu, berkorelasi dengan nasib para pedagang pasar asem beberapa hari kedepan. Mereka (pedagang) boleh yakin dengan kucing-kucingan mereka. Karena keyakinan mereka dikuatkan dengan tetap loyonya Satpol PP terhadap pedagang di Keputran. Namun sampai kapan?? Dan kenapa pemerintah kota Surabaya tidak kasihan melihat mereka???

Dan kini, pasar keputran mini itu berada dalam hitungan hari lagi. Kita tinggal menunggu hari untuk melihat pasar ini punah, bahkan terlupakan oleh pengguna kendaraan di jalan Simo Margersari dikemudian hari. Namun walaupun begitu, tak cukup pantas jika kita berkata selamat tinggal kepada pasar asem. Karena pasar ini masih memiliki teritorial yang bahkan masih tercatat sebagai pasar PD Surya. Tapi cukup pantas jika kita berkata, Selamat menghitung hari untukmu pasar Asem. Pasar Keputran bagi warga Surabaya barat.

-Bond Chan-

4 thoughts on “Pasar Asem, Riwayatmu Dalam Hitungan Hari

  1. Aliza is here *superhappy

    Sayangnyaaaaa gw belum pernah ke Surabaya jadi ga tahu soal pasar Asem *sorry

    wah blog om pamber mah “berat” ya hehehehhehehe
    blog saya mah ringan remeh temeh huhuhuhuhuhu

    • hehehehe.. saya jarang bawa2 sumber banyak.. dikit aja asal cukup menjelaskan..😀

      kalo jadi penulis di opini, sebenernya pernah dua kali kalo ga salah tembus di koran lokal. tapi enak di blog aja.. lebih bebas mau bahas tema apa.. kalo di koran, paling enak pas krisis ekonomi gini ato ada berita boom selain politik.. males bahas politik soalnya.. :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s