Hina ODHA Layaknya Menghina Orang Sakit Panu


Sebelumnya, saya ingin mengucapkan selamat hari AIDS sedunia. Semoga di tahun-tahun mendatang ODHA di seluruh negara khususnya Indonesia semakin berkurang.

ODHA adalah singkatan dari Orang Dengah HIV Aids seakan-akan menjadi sebuah hal yang memalukan, dan menjadi pasien dengan penyakit yang cukup parah namun tidak pantas untuk dirawat selayaknya. Banyak alasan banyak cerita tentang mengapa ODHA tidak boleh mendapat perawatan moril secara layak di mata masyarakat. Alasan yang sering diucapkan adalah bahwa HIV adalah penyakit yang jorok, yang kotor, yang hina dina karena penyakit itu biasa ditularkan melalui hubungan fisik dengan PSK, atau melalui jarum suntik, atau untuk bayi melalui ibunya yang notabene pernah melakukan sesuatu yang menurut norma kemasyarakatan sangat buruk. Dan karena itu dia (sang ibu) terkena HIV.

Dasar untuk mengucilkan ODHA di masyarakat atau bahkan di keluarga besar mereka sebenarnya cukup jelas dan tepat. Bahwa HIV/AIDS adalah penyakit akibat kesalahann mereka (ODHA) sendiri. Karena penularannya sendiri tidak semudah penyakit flu burung, atau penyakit flu.

Kesalahan mereka sendiri yang mau menyewa PSK, kesalahan mereka sendiri yang mau pakai jarum suntik bergantian (yang padahal harga jarum suntik sebiji ga sampai 5.000 rupiah). Bahkan ga jarang ada yang bilang kesalahan mereka sendiri menikahi perempuan atau pria yang pernah ‘nakal’ hingga ga sadar kalo dia sudah terkena HIV sebelum menikah. Itu Semua menjadi dasar agar ODHA tidak perlu diberi bantuan secara mental untuk bisa sembuh dari penyakit mereka. Sungguh ironis, namun ini kenyataanya.

ODHA sebenarnya tidak memiliki perbedaan dengan orang dengan sakit-sakit lain. Mereka sama butuh bantuan untuk mengangkat mental mereka yang telah jatuh. Jatuh bukan karena history dari ODHA lain, namun jatuh karena serangan terhadap sistem imun yang mengakibatkan tubuh mereka rusak secara perlahan telah membuat mereka berpikir tentang kematian, kematian, kematian, dan kematian. Bukan tentang bagaimana jika tetangga mereka tahu atau semacamnya.

Menjadi sebuah kelucuan tersendiri jika kita harus menjatuhkan kata-kata : rasain tuh akibat hubungan sama PSK, rasain tuh akibat pake narkoba tapi pelit buat beli suntik yang murah. Coba jatuhkan kata-kata yang serupa kepada orang yang sakit Diabetes, stroke, atau bahkan panu?? Saya bantu buat kalimatnya : Rasakan itu suka makan ga teratur. Gula terlalu banyak, ga pernah olahraga. Kena diabetes kan sekarang??? Mati aja loe..!! Atau kalimat ini : Enak kan makan kambing terus setiap hari?? Enak kan habis makan tidur?? Rasain tuh..!!! Atau kalimat ini : Makanya bro, kalo mandi jangan sekali sehari. Kena panu kan sekarang??? Makan tuh panu..!! Bahkan jika anda adalah orang yang radikal terhadap ODHA boleh coba ngomong ini ke temen anda agar menjauhi ODPP (orang dengan penyakit panu) : heh, jangan deket-deket sama si X itu. Coba bayangin kalo kamu bersentuhan sama dia terus panunya ternayata udah nyebar di telapak tangannya?? Hiiihhh.. kalo aku sih ogah.

Semua orang sakit butuh obat secara fisik dan mental. Karena didalam tubuh yang sakit terhadap jiwa yang lemah. Dan jika jiwa yang lemah itu dikuatkan, maka jadilah peribahasa : Di dalam jiwa yang kuat (semoga) terdapat tubuh yang sehat.🙂 Jangan jauhi ODHA, temani mereka layaknya mereka terkena penyakit panu. Karena dia butuh kita, dan kita butuh dia saat nanti kita sakit. Semoga menjadi renungan.😀

Salam Bond Chan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s