Saat Semakin Banyak Pria Berpenampilan Kurang Jantan, Apakah Ini Tanda Kiamat?


Tulisan ini bermula dari celetukan saya kepada adik saya saat memperlihatkan foto idolanya yang katanya berwajah unyu dan bla bla bla tapi buat saya itu bukan cowok tapi cewek. Dan setelahnya saya berkata : ga bisa saya bayangkan jika nanti gaya ini mendunia, mungkin benar apa yang ditulis di sebuah kitab bahwa ini adalah tanda kiamat, dimana laki-laki dan perempuan tidak bisa dibedakan lagi.

Yah tanpa perlu saya tulis panjang lebar di sini, anda pasti sudah terbiasa dengan tampang-tampang boyband korea dengan operasi plastik di sana sini, sehingga wajahnya yang semula jelek menjadi ‘cantik’. Bukannya menjadi lebih tampan, mereka justru dipermak menjadi cantik namun disuruh bergaya dan bersuara tetap pria (di depan panggung). Degradasi style yang disebarkan dari korea ke seluruh asia ini memang tengah digandrungi oleh kaum hawa dan juga kaum adam di asia khususnya Indonesia. Degradasi dari menjadi pria yang lebih jantan atau setidaknya tetap menunjukkan bahwa mereka pria pun membuat saya bergidik sendiri. Apa sih kerennya?? Dimana sih kerennya?? Dan apa sih bedanya mereka dengan Olga Syahputra?? 😀

Banci adalah kata yang sering muncul dalam otak saya namun enggan terucap karena belum terlalu berdasar ketika melihat boyband dengan penampilan unyu bin cantik tapi cowok. Kenapa bisa begitu? Karena saya bingung. Standard banci yang diberikan ahli bahasa dan ditanggung jawab oleh kementrian pendidikan adalah sebagai berikut : [a] tidak berjenis laki-laki dan juga tidak berjenis perempuan; (2) n laki-laki yg bertingkah laku dan berpakaian sbg perempuan; wadam; waria. Jika ditelisik lagi, mereka ini masih laki-laki (ngakunya),  bertingkah masih seperti laki-laki, berpakaian masih seperti laki-laki. Tapi kenapa wajah mereka terlihat seperti perempuan?? Sayangnya ahli bahasa tidak mencantumkan wajah kewanitaan (yang disengaja) merupakan bagian dari banci atau tidak. Dan saya tidak mengenal ahli bahasa sama sekali. Kecuali guru SMA saya dan mungkin butuh waktu untuk bertanya tentang ini kepada beliau.

Wajah terlalu kewanitaan menjadi inti persoalan disini. Melihat semakin hari perombakan wajah yang menyalahi kodrat dan terlalu jorok (opini pribadi) semakin digandrungi gadis-gadis di asia, siapkah kita menghitung hari berapa lama lagi penyakit ini akan mewabah ke kakak anda, adik anda, tetangga anda?? Dengan perhitungan mudah : Jika dalam sehari fans salah satu boyband (yang memiliki min satu personel berwajah jorok itu) bertambah satu orang di tiap negara di asia, dalam setahun berapa banyak fans mereka yang menggilai orang itu?? Dan dalam setahun berapa banyak pria-pria yang awalnya normal akan berbuat seperti itu??? Mari tundukkan kepala sejenak untuk bumi yang lebih baik. 🙂

Sulit mengerti arah pemikiran mereka -orang yang mau dipermak- menyetujui perubahan wajah macam itu. Dahulu memang terkenal operasi membuat lesung pipi atau operasi lain yang membuat penampilan lebih menarik namun tetap jantan. Namun ini?? Saya sendiri penasaran pada wanita-wanita pecinta pria berwajah lebih jelek dari tukul arwana itu. Apanya yang ganteng sih?? Saya bukan mempermasalahkan oplasnya, tapi perubahannya. Tapi otak kotor saya berkata : inilah salah satu gebrakan untuk merubah mode dunia dari amerika menuju korea. Kenapa bisa begitu? Melihat potensi boyband girlband korea yang sedang naik daun, jika tidak membuat style yang menabrak yang sudah ada jelas akan membuat style berseni asli dari otak cerdas para seniman akan runtuh dengan style berseni rendahan dan murahan dan tidak memiliki estetika khas korea itu. Semoga versace, D&G, dan semua desainer tingkat dunia tetap bisa membuat karya yang bagus seperti saat ini.

Hingga pada akhirnya, jika dunia permak wajah menjadi kurang jantan ini terus menerus mendunia, inilah tanda awal yang ada di sebuah kitab dalam pembahasan tentang kiamat. Dimana pria dan wanita semakin sulit dibedakan. Sampai pada waktunya matahari akan terbit dari timur, dan semua gunung meletus. Dan dunia akan berakhir.

 

 

 

Salam

 

 

Bond Chan

Saat bosan review kuliner ternyata (hanya) promosi, saat itulah dia lahir..


Saat ini, yang namanya website berisi review kuliner seakan menjamur seperti lumut di musim hujan. Ramai kita temui media promosi kuliner mulai dari website, di tv, radio, dan banyak media lain. Seakan berlomba-lomba dengan menjamurnya penyedia promosi, marketer kuliner mulai dari kaki lima, hingga restoran bintang lima pun seakan bisa dengan mudah memilih sesuai budget dan kepandaian tim promotor tersebut dalam menjajakan barang dagangan mereka.. Dan secepat kilat, ada yang ramai dan ramai terus ada juga yang ramai namun merasa tertipu..

Sebenarnya dalam dunia review berbayar, melebih-lebihkan sesuatu yang biasa saja demi membangun integritas promosi mereka. Peduli setan dengan pembeli yang nantinya harus rela tertipu dengan rasa, apalagi dengan harga. Ini sudah wajar ada, dan agen promosi itupun juga tahu. Tapi… Tanggung jawab ada di tangan pembaca/penonton. Mereka hanya kepanjangan tangan dari marketer perusahaan kuliner.

Tarif yang relatif banyak pilihan, dengan penyesuaian budget meskipun juga harus berkolerasi dengan jumlah pengunjung nantinya pun nampaknya membuat bisnis review berbayar di bidang kuliner ini begitu menjanjikan.  Cukup bercuap-cuap makanan di sini enak bla bla bla, dengan harga yang murah (tapi ternyata lain) membuat saya tergelitik. Ga ada maksud buat meniru membuat review berbayar seperti yang sudah ada, tapi justru saya tergelitik membuat tandingan dengan kemiripan yang cukup sama.. 😀

Please welcome  : http://www.gakcumamakan.wordpress.com Sebuah blog kuliner yang berisi tentang review makanan dengan tingkat obyektifitas yang tinggi, tanpa bertujuan mempromosikan secara real. Disana anda bisa mengetahui makanan A ini bagusnya dimana dan jeleknya dimana, begitupun dengan makanan B. Reviewnya pun tidak hanya berkutat dari segi rasa, dari segi penampilan saja. Tapi disitu anda bisa belajar tentang mix and match rasa, dan bisa tahu tentang makanan yang dibahas ini rasanya dibuat dari apa saja. Dan tentunya tentang suasana, tentang kemasan, tentang apapun layaknya review kuliner umumnya.

Sebenarnya sudah lama juga saya pengen buat blog macam ini, dimana ga cuma ngomong tentang bahan yang terlihat saja tapi tentang bahan yang sudah diolah pun disitu juga ada. Dengan dibantu salah seorang teman, saya cukup merasa sukses membuat blog yang (mungkin) membuat panas reviewer bayaran. Walaupun kebanyakan tulisan disana mungkin hanya berbasis di Surabaya, namun akan ada tulisan kuliner di luar Surabaya sekali dua kali.. Kritikan yang membuat panas, dan pujian yang menerbangkan pemilik ke langit ketujuh berada di situ.

Harapan kecil saya sih sebenarnya hanya ingin membuat sebuah review kuliner yang ga membohongi dan bisa menjadi acuan dengan rasa, dan dompet bagi pembacanya.. Dan tentunya memberi edukasi tentang masakan dan tentang bahan masakan kepada pembaca semampu ilmu retorika kuliner saya.. 😀

 

Salam

 

Bond Chan