Last Child -Ketinggalan Musim atau Idealisme Pecundang-


Last child. Siapa sih yang tidak kenal band satu ini? Band yang sudah dibentuk sejak tahun 2006 ini, memang langsung meledak sejak meluncurkan (ulang) lagu mereka yang berjudul diary depresiku. Mungkin tidak banyak yang tahu kalau lagu diary depresiku yang membuat nama mereka dikenal sebagai salah satu band aliran pop rock ini bukan dari album terbaru mereka, melainkan dari album pertama mereka yang sudah dirilis secara indie di tahun 2007. Dan total album yang mereka buat ada 3 buah, saya sendiri baru tahu yang satu ini.

Selain lewat lagu diary depresiku, Last Child dikenal dengan lagu-lagu mereka yang antara lain : pedih, sekuat hatimu, seluruh nafas ini, dan yang terakhir adalah indahkan perbedaan. Dengan hits-hits itu, mereka kini mampu menjadi salah satu band yang bisa diperhitungkan di kancah musik tanah air. Meskipun… Dari semua hits mereka tidak ada satupun yang memiliki variasi kecuali : sedih dan sok kayak anak jalanan. *hell*

Lagu galau, lagu sedih. Adalah ciri khas dari Last Child menurut saya. Tidak ada nuansa bahagia, senang. Yang ada hanya sedih, tangisan putus, rengekan ingin balikan sama mantan, dan sok seperti anak jalanan yang mau minta maaf sama ibunya. Sebenarnya tidak ada masalah dengan lagu sedih, lagu galau. Tapi kok baru keluar sekarang? Kemana saja waktu musim lagu galau sekitaran tahun 2009-2011? Sekarang bukan jamannya galau, sedih, dkk bung.  2011-sekarang ini masih musimnya boyband/girlband dengan tema lagu ceria, jatuh cinta, dan semua yang enak didengar dan dirasakan. Sementara yang saya tahu, last child ini masuk di penghujung musim lagu galau di awal 2011 lewat lagu diary depresiku. Dan maaf harus saya katakan : kalian masuk di saat yang telat.

Sedikit flashback. Musim lagu indonesia sempat didera musim melayu lemas dengan diawali kedatangan Kangen band, ST 12 di kisaran tahun 2006. Semakin bosan orang dengan lagu melayu, pasar berubah menjadi lagu galau. Namun yang membedakan musim lagu melayu dengan musim galau, waktu musim lagu melayu masih ada lagu yang memuat suasana postif. Suasana positif di sini maksudnya seperti tema jatuh cinta, mencintai pacar, dsb. Tidak melulu masalah patah hati, putus, cinta ditolak saja seperti masa suram lagu galau.

Sementara sekarang (masih) musimnya yang ceria, baik dengan minus one, maupun alat band umum. Pasar sudah sangat jenuh dengan suasana sedih setiap hari. Hingga akhirnya waktu pertama SM*SH&7icons menggebrak musik tanah air  jadilah hal itu seperti guyuran air di tengah gersangnya inovasi tema lagu di kancah musik Indonesia tercinta ini. Sementara last child? Salah masuk besar!! Apalagi mereka membawa lagu cengeng untuk semua hits nya.

Bisa menjadi pertanyaan, kenapa mereka memajang lagu-lagu cengeng tanpa ada satupun lagu ceria untuk hits yang mereka lempar di radio maupun televisi? Apakah tim marketing mereka yang bodoh, atau memang ini idealisme mereka? Idealisme pecundang? Saya sudah mencari di sana sini, tidak ada satupun yang bisa menjawab pertanyaan saya ini. Bukan masalah lagu cengengnya yang saya permasalahkan di sini. Tapi ga ada variasi tema adalah pertanyaan tersendiri. Apa iya Last Child ini mau meniru Glenn Fredly yang punya sihir tersendiri kalau lagi galau? Goshhh.. Glenn Fredly pun ga semua lagunya sedih.. Tahu lagu kisah romantis, cukup, kau,happy Sunday kan? Itu semua temanya ceria. Dan itu disebar bergantian dengan lagu galaunya.  Jadi ga ada cerita Glenn Fredly bisa dinyatakan sama dengan Last Child. Terus Last Child ini mau melawan arus marketing atau memang idealisme mereka ya sebatas itu?

Tahukah kalau setiap kita mendengar lagu sedih akan membuat suasana hati ikut berubah? Dan jika suasana hati jongkok terus, otak pun tidak bisa bekerja dengan maksimal. Ini yang tidak disadari namun ini nyata. Coba sekali waktu anda perhatikan radio dengan segmen adault. Mereka memainkan tempo lagu-lagu di playlist mereka sesuai dengan keadaan tubuh pendengarnya. Pagi hari mereka akan memutarkan lagu-lagu yang upbeat karena tubuh pendengarnya pasti masih mengantuk, dan butuh semangat. Menjelang siang, beat mulai diturunkan hingga middle. Ketika sore, badan mulai capek mereka memainkan lagu dengan beat middle dan sedikit tinggi.

Bagaimana dengan Last Child? Coba bayangkan anda pagi hari –baik sengaja atau tidak- mendengar satu lagu last child apa yang akan anda rasakan? Malas, lemas, tidak bersemangat? Tentu saja. Itulah kenapa saya sendiri benci dengan band satu ini. Karena selain lagunya yang cengeng dan sok seperti anak jalanan –padahal vokalisnya (maaf) seperti banci- juga ga ada satu pun hits mereka yang bernuansa positif. Semua negatif. Lalu apa yang mau didengar dari band ini selain kepecundangan?

Saya suka hampir semua di Indonesia saat ini. Karena band melayu sudah hampir punah. Tapi kalau lagunya negatif semua kayak Last Child ini? Mending saya panggil lagi tuh Kangen Band, ST 12 buat nyanyi lagi. Sedikit saran untuk Last Child, hentikan idealisme atau marketing pecundang anda ini!!! Demi masa depan musik indonesia yang lebih baik.

Salam

Bond Chan

Iklan

Menjelang Arthur’s Day 2012 –Ayo Tunjukkan Taringmu Pada Juragan Miras-


Maaf sebelumnya buat yang udah nunggu tulisan minggu ini. Baru bisa diposting sekarang, karena koneksi internet seharian kemarin ga bisa connect melulu. Jadi sekarang baru bisa posting tulisan buat minggu ini. Selamat menikmati…

Arthur’s Day adalah satu perayaan yang digunakan untuk mengenang hari lahirnya sang pembuat bir terkenal asal irlandia Sir Arthur Guinness. Yang tentu saja sesuai namanya, dia adalah pembuat bir paling terkenal hingga hari ini di seluruh dunia : “Guinness”. Perayaan ini dimulai di tahun 2009 yang diselenggarakan di beberapa tempat di seluruh dunia yang antara lain : Dublin, Kuala Lumpur, Lagos, New York, dan Yaounde. Di hari lahir ke 253 tahun ini, Indonesia merayakannya di empat kota berbeda. Surabaya : 31 Oktober 2012, Jakarta : 3 November 2012, Makassar : 6 November 2012, Medan : 8 November 2012.

Siapakah sebenarnya Sir Arthur Guinness ini? Dia adalah pembuat dan penemu dari bir Guinness. Terlahir di tahun 1724/1725 –tidak ada kabar pasti tentang kelahirannya- dan meninggal di tahun 1803. Selain itu ia juga terkenal sebagai seorang entrepreuner, visionary, dan filantropi. Awal karirnya membangun kerajaan salah satu bir terbesar di dunia dimulai ketika ayah baptisnya memberinya uang £100. Dan dari uang itu ia investasikan untuk sebuah tempat pembuatan bir di Leixlip, 17 km dari Dublin. Dia menyewa lahan seluas 16.000 m2 dan pada tahun 1755 dia menyewakannya untuk tempat pembuatan ale. Satu diantara jenis bir.

Arthur’s day yang sudah saya jabarkan diatas sepertinya memang menjadi satu diantara hari istimewa di dunia. Selain sebagai tempat untuk mengenang dan merayakan hari ulang tahun Guinness, menurut salah satu sumber, Arthur’s Day adalah hari dimana kita bisa menikmati Guinness dengan kualitas khusus dengan harga miring. Untuk yang punya uang lebih pun bisa menikmati sajian eksklusif yang sulit ditemukan di tempat lain. Untuk pecinta minuman keras : ini adalah surga!! Clubbers, penikmat minuman keras, dan pencari hiburan dimana mau mereka hangover sampai pagi pun polisi menjamin keamanan mereka adalah di perayaan arthur’s Day tempatnya.

Arthur’s Day di Indonesia dari tahun 2010 yang waktu itu hanya diselenggarakan di Jakarta, hingga tahun ini yang diselenggarakan di empat kota di Indonesia sepertinya memang terasa aman tenteram dan menyenangkan. Tentunya rasa itu dirasakan oleh orang yang ada di Arthur’s Day. Mereka bisa bebas berpesta pora tanpa ada demo, hingga ancaman pembubaran acara dari ormas yang biasanya vokal dengan mirasantika. Saya sendiri dari tahun kemarin ketika pertama mengenal Arthur’s Day yang kebetulan juga pertama kalinya acara ini menyasar kota kelahiran saya –Surabaya- berpikir di mana kah mereka yang biasa mengobrak warung remang-remang, dimana mereka yang serius menjalankan aturan agamanya untuk menolak minuman keras, termasuk di mana mereka yang anti dengan budaya barat karena acara ini jelas merusak budaya asli negeri sendiri??? Dimanakah mereka?? Saya sempatkan mencari via google, tidak ada satupun aksi yang terekam oleh citizen journalism lewat blog atau oleh wartawan.

Saya pun menjadi bertanya-tanya lagi tentang Arthur’s Day ini. Mungkinkah acara ini tak berbahaya jika dibanding kehadiran Hiliary Clinton kemarin? Sampai harus ada demo untuk menolak kedatangannya. Bisa jadi mungkin. Karena Arthur’s Day ini adalah acara konser biasa. Atau mungkin ada hal yang tersembunyi sehingga membuat mereka lupa kalau acara ini adalah untuk mengenang kelahiran salah satu pembuat minuman yang dapat merusak tubuh hingga jiwa seseorang? Dan itu lebih parah dari sekedar kedatangan seorang menlu yang membawa uang beberapa ratus M untuk dipinjamkan sebagai uang pendidikan kepada negara ini. Coba kalau mau berpikir sejenak : lebih untung mana bagi negara ini kedatangan seorang menlu dengan tujuan diplomatik dan memberi bantuan untuk pendidikan atau acara tahunan dengan tiket paling murah Rp 100.000 –pre sale Arthur’s Day di Makassar- yang isinya hanya mabok-mabokan dan mengenang orang yang membuat bir?? Tolong jawab dalam hati masing-masing.

Apa sih pentingnya Arthur’s Day dirayakan di Indonesia? Bahkan harus dirayakan di Empat kota pula. Demi kapitalisme? Mungkin salah satunya. Untuk kali ini saya satu aliran dengan kaum yang benci dengan kaum kapitalisme. Karena acara yang menurut saya sendiri ga ada gunanya ini, selain merusak juga hanya untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya saja. Tanpa ada keuntungan lebih bagi khalayak ramai. Kalau tujuan lain dari Arthur’s Day adalah mendatangkan Creed di Indonesia, kenapa tidak diadakan konser saja tanpa membawa Arthur’s Day? Sekali lagi saya tekankan di sini saya tidak menyetujui adanya Arthur’s Day di Indonesia khususnya Surabaya. Karena jika hal ini diteruskan, perayaan Arthur’s Day akan terus meluas ke banyak kota besar di Indonesia.

Tujuan utama dari tulisan ini adalah sekedar mengingatkan kepada ormas yang selama ini vokal dengan sesuatu yang tidak sesuai syariatnya, untuk bersuara kalau bisa membubarkan hingga memboikot acara ini demi bangsa dan negara ini. Belum terlambat untuk menghentikan acara ini di negeri kita tercinta. Belum terlambat untuk menghentikan juga mengurangi populasi peminum bir di negeri ini dengan memboikot dan memberikan suara negatif untuk acara ini. Dan maaf kalau saya sedikit mengancam, karena seperti yang sudah saya jelaskan diatas bahwa acara ini telah dilaksanakan dua tahun dan tanpa ada suara negatif, jika di tahun ketiga ini tidak ada satupun demo, ancaman boikot, atau minimal bentuk protes dari FPI, HTI, himpunan mahasiswa islam dll saya akan membuat tulisan lanjutan yang serius tentang arthur’s Day ini tepat pada 2 November 2012. Karena saya telah menjabarkan secara jelas tentang acara ini, dan bukan waktunya lagi tutup mata untuk acara besar yang akan merusak Indonesia ini.

Salam

Bond Chan

Bukan Sekedar Transisi Setir, Ini Adalah Transisi Budaya


Mobil adalah satu diantara kendaraan yang paling berguna di abad ini. Semua jenis mobil selalu memberi kegunaan yang berarti bagi pengguna maupun pemiliknya. Berguna untuk mobilitas, berguna untuk melindungi dari panas dan dinginnya cuaca selama perjalanan, berguna untuk mengangkut barang, hingga berguna untuk sekedar menjaga kerapian pakaian penggunanya. Jenis mobil pun semakin tahun semakin bervariasi. Mulai roda 4, hingga roda 16 yang disebut truk. Mobil beroda 4 jenis pick up adalah salah satu yang menjadi idola para wirausaha. Ada yang bak terbuka, ada yang bak tutup atau lebih dikenal sebagai pick up box.

Menjadi supir pick up Box adalah salah satu yang termudah dibanding semua jenis mobil bermata 2. Bingung dengan maksud mata dua? Pick up box semua jenis sesuai besarnya mesin, truk dengan semua jenis, hingga trailer adalah jenis kendaraan dengan dua mata tambahan selain mata alami sang supir. Maksudnya spion mereka hanya terdiri atas dua yaitu kanan dan kiri. Tanpa ada spion tengah layaknya mobil biasa. Sehingga lebih sulit dibanding mengendarai mobil biasa. Dan masih banyak hal lain yang membuat memegang kendali mobil box dan truk itu sulit yang membuat supir-supir ini seperti superior di jalanan protokol. Padahal kalau anda mau tahu, kami hanya ingin dihargai karena keterbatasan. Darimana saya tahu??

Sedikit cerita bahwa saya akhirnya come back untuk nyetir mobil lagi setelah tiga tahun absen karena tabrakan yang menghabiskan uang sejuta lebih. Dan come back saya itu langsung berhadapan dengan pick up box milik sendiri yang sebenarnya sudah dimiliki 2 tahun yang lalu. Ya namanya hanya punya mobil itu, saya pun mulai belajar hingga bisa kembali menggunakan mobil bermata dua tersebut. Banyak hal yang saya pelajari. Mulai sulitnya parkir, hingga hormatnya supir semua jenis truk kepada saya saat mengendarai mobil ini. Hormatnya bukan bentuk hormat berlebih, tapi hormat layaknya menghargai sesama supir bermata dua. Aneh? Tapi ini adalah kenyataan dan silakan coba sendiri jika anda tidak percaya. J

Semakin saya belajar tentang budaya kasar supir kendaraan bermata dua, saya semakin tahu bahwa keberanian dan –menurut bahasa saya- penguasaan teritori adalah kunci mengendalikan mobil jenis ini. Jika anda mau tau lebih panjang lebar tentang apa maksud penguasaan teritori silakan tulis di papan komentar. Dua kunci itu seperti merasuk betul di alam bawah sadar saya bahkan ketika mengendarai mobil selain mobil saya sendiri. Pada awalnya saya berpikir gaya menyetir baru saya ini adalah wajar dan biasa. Namun bagi orang yang tidak terbiasa, mereka sedikit takut. Hingga akhirnya dengan berat hati sang mobil bermata dua itu harus saya serahkan pada orang lain dan berganti dengan mobil keluarga –Kijang- karena mobil itu lebih dibutuhkan oleh keluarga saya saat ini. Saat pertama membiasakan diri dengan mobil baru ini saya hanya perlu merubah pandangan depan saya saja. Bagi yang bisa menyetir mobil pasti tahu maksudnya. Tapi ternyata lebih dari itu. Saya harus belajar untuk merubah gaya menyetir saya. Bahwa saya sudah bukan teman supir mobil bermata dua lagi. Sial bagi saya, saya tidak menyadari itu. Saya pikir saya masih teman mereka. Karena gaya menyetir saya masih sama dengan mereka. Saya masih berani mepet dengan perhitungan super tipis, saya masih mengambil garis teritori saya. Tapi saya salah besar. Hingga dua kali tabrakan, dua spion hilang, dan body belakang tergores cukup dalam menyadarkan saya bahwa saya bukan lagi teman mereka.

Kekejaman hidup di Surabaya mungkin sudah sering saya bahas di dunia bond chan ini. Mulai dari budaya buruk orang Surabaya barat dan masih banyak lagi. Silakan gunakan search engine di pojok kanan atas untuk yang baru. Dan kali ini saya untuk kesekian kalinya kembali membuka kejamnya hidup di Surabaya. Apa itu?

Bahwa tidak peduli bagaimana kamu mengendarai, yang dilihat adalah apa yang kamu kendarai. Ya, ini adalah satu kesalahan fatal saya yang baru benar-benar saya sadari ketika tabrakan kedua dengan mobil baru ini. Bahwa saya lupa saya (hanya) mengendarai mobil keluarga. Bukan mobil bermata dua, sehingga tidak pantas untuk menjadi teman dan berbagi tempat dengan mobil bermata dua. Persetan saya membawa barang kiriman atau saya hanya bertamasya, tapi yang jelas di mata mereka saya adalah pengemudi mobil bermata tiga. Tidak boleh berteman dengan yang bermata dua. Dan ketika saya sadar seutuhnya, saya terinspirasi untuk menulis di sini.

Boleh jika anda menilai tulisan ini berlebihan, alay dan segala macam. Tapi kalau anda mau merasakan barang 6 bulan untuk rasakan, nikmati, dan benar-benar perhatikan anda akan membenarkan tulisan ini. Karena saya telah merasakan sendiri, saya menikmati sendiri, dan saya memperhatikannya sendiri. Tulisan ini hanya curahan hati setelah saya kehilangan uang beberapa ratus ribu karena tidak menyadari bahwa saya adalah apa yang saya kendarai.

Salam

Bond Chan

All The President’s Men -Bongkar, Tegang, Tanpa Rasa Menjadi Pengungkapnya-


Halo… Lama banget ga pernah nulis lagi di blog ini. Hanya sekali dua kali saja balas komen. Yah maafkan karena memang terlalu banyak kesibukan yang bikin susah cari waktu buat nulis.. Tapi saya berjanji, tulisan di Dunia Bond Chan akan kembali hadir rutin lagi seperti dulu. Tapi bedanya kali ini ada jadwalnya. Seminggu sekali cukup. Yang penting tetap menulis.. Hari apa posting?? Saya akan rutin kembali menulis tentang apapun mulai dari review novel, review film masalah sosial dan lain-lain setiap hari jumat. So, buat yang kangen dengan tulisan saya *ceilah* tunggu setiap jumat pasti akan ada tulisan baru lagi..

So, nikmati hidupnya kembali Dunia Bond Chan dengan postingan soal salah satu novel yang baru kemarin malem selesai saya baca. Selamat membaca…

Sinopsis :

Sebuah pembobolan dan penyadapan terjadi di kantor komite nasional demokrat di Watergate. Dilakukan oleh 5 orang yang antara lain Bernard L Barker, Virgilio R Gonzales, Eugenio R Martinez, James W McCord Jr, dan Frank A Sturgis. Pada awal mula dianggap ini hanya kasus penyadapan biasa yang mungkin saja dilakukan oleh tim kampanye Richard Nixon yang menjadi capres incumbent dari partai republik.

Namun ada satu kejanggalan yang membuat dua wartawan muda dari The Washington Post berpikir pasti ada sesuatu yang lebih mendalam ketimbang sekedar pembobolan dan penyadapan. Setelah itu mereka menemukan bukti bahwa semua ini didalangi oleh CRP atau tim sukses untuk pencalonan kembali presiden Richard Nixon. Setelah mendapat bukti tersebut mereka malah menemukan banyak hal yang sangat mengejutkan. Mulai dari dana kampanye yang luar biasa besar yang ternyata adalah uang hasil money laundry yang dilakukan oleh orang2 CRP. Siapakah yang menjadi dalang utama  money laundry uang rakyat tersebut sehingga berbelok dari yang seharusnya untuk kesejahteraan rakyat justru dipakai dana kampanye capres Richard Nixon??

Review :

Jika saya menyebut ini sebuah novel, sedikit rancu. Namun setelah bertanya ke beberapa teman yang memang mengerti betul tentang sastra -bukan seperti saya yang hanya ngerti baca cerita dan memahami isi saja- memang ini adalah sebuah novel. Walaupun ini dikatakan novel secara sastra, namun jangan heran kalau membaca ini seperti membaca berita. Gaya penulisan khas novel hampir sulit ditemui di sini. Sedikit sekali pengungkapan perasaan berlebih seperti yang biasa ditemukan dalam novel, tapi pengungkapan perasaan untuk menunjukkan kekacauan dan kekagetan tentang pembukaan rahasia  yang baru diketahui cukup membuat kita ikut merasakan yang dirasakan oleh Bob Woodward dan Carl Bernstein dan rakyat amerika pada umumnya setelah mereka membaca laporan kedua wartawan Post ini.

Cerita yang dimulai dari awal sekali ketika terjadi pembobolan, hingga pencarian bukti awal bahwa ini bukan sekedar penyadapan dan pembobolan biasa membuat pecinta sejarah dan pecinta investigasi ala detektif langsung jatuh hati. Meskipun jangan berharap lebih dengan gaya bahasa dalam buku ini bakal sama dengan Sherlock Holmes yang penuh dengan analisis, di sini hanya penggambaran bagaimana Woodward dan Bernstein mencari bukti hingga akhirnya diterbitkan di koran The Washington Post. Tapi rasakan ketegangan dan rasa penasaran yang tersembunyi dan selamat datang dipengungkapan kasus korupsi pertama yang membuat seorang presiden Amerika Serikat harus turun takhta di masa kepresidenannya!!!

Membicarakan kasus watergate sebenarnya adalah kasus sejarah yang kelam yang pernah dialami oleh negara adidaya seperti AS. Dengan pencucian uangnya yang waktu itu terhitung sangat sangat banyak yaitu total hingga us$800.000, membuat penyelidikan kasus ini berjalan setahun lebih!! Dan kasus yang sebenarnya terjadi pada tahun 1970 an ini memang terasa seperti sejarah buat yang belum lahir di jaman itu. Tapi kalau anda membaca All The President’s Men ini seperti membaca pengungkapan kasus yang sedang hangat atau baru saja terjadi. Ya, jadi seperti tidak terasa hidup di jaman 1970 an. Semua ini dikarenakan novel yang dicetak ulang dengan cover baru pada tahun 2012 ini seperti buku baru lagi buat yang baru mengerti tentang novel ini.

Saya pribadi sudah tahu tentang kasus watergate dari tahun 2008-2009 waktu ada film frost/nixon. Disitu diceritakan bahwa Frost memaksa Nixon yang sudah mundur dari kekuasaannya untuk meminta maaf dan mengakui kesalahannya kepada publik melalui wawancara dengannya. Sempat beberapa kali mencari via google, dan hanya menjadi pengetahuan saja bahwa watergate adalah ulah dari nixon yang ingin mencari dana tambahan untuk kampanye pemilu keduanya. Titik. Hanya sebatas itu. Belum kenal Haldemann, belum kenal siapa itu Dean, Ernlichmann, ziegler dan belum kenal juga hakim Sirica. Apalagi tugas dari orang-orang terdekat presiden tersebut. Barulah setelah membaca novel ini saya mengerti sampe dalam sedalamnya. Dan tentunya dengan bahasa Indonesia. 😀

Selain sejarah tentang watergate yang begitu mendalam sampai ke yang paling dalam dari kasus watergate, ada tambahan yang bisa anda nikmati waktu membaca novel ini. Apalagi kalau bukan rasanya menjadi wartawan. Ya, novel dengan isi cerita 511 halaman ini memang catatan dari dua wartawan Post seperti yang sudah saya ceritakan di awal. Sehingga rasanya bertarung dengan Ronald L. Ziegler -sekretaris Pers Presiden- pun membuat kita merasakan betul beginilah rasanya menjadi wartawan. Termasuk bahwa wartawan tak selamanya benar dengan fakta yang mereka punya. Bisa ditemukan di puncak kasus watergate dalam novel ini.

Overall saya menyukai novel ini. Tebal dan panjangnya ukuran novel ini pun tak begitu membuat saya lama menghabiskan novel cerdas ini. 2o hari cukup menyelesaikan novel sejarah terhebat yang pernah saya baca ini.

Recomended buat nambah ilmu!!!!!!!!

Score

8,5/10