Bukan Sekedar Transisi Setir, Ini Adalah Transisi Budaya


Mobil adalah satu diantara kendaraan yang paling berguna di abad ini. Semua jenis mobil selalu memberi kegunaan yang berarti bagi pengguna maupun pemiliknya. Berguna untuk mobilitas, berguna untuk melindungi dari panas dan dinginnya cuaca selama perjalanan, berguna untuk mengangkut barang, hingga berguna untuk sekedar menjaga kerapian pakaian penggunanya. Jenis mobil pun semakin tahun semakin bervariasi. Mulai roda 4, hingga roda 16 yang disebut truk. Mobil beroda 4 jenis pick up adalah salah satu yang menjadi idola para wirausaha. Ada yang bak terbuka, ada yang bak tutup atau lebih dikenal sebagai pick up box.

Menjadi supir pick up Box adalah salah satu yang termudah dibanding semua jenis mobil bermata 2. Bingung dengan maksud mata dua? Pick up box semua jenis sesuai besarnya mesin, truk dengan semua jenis, hingga trailer adalah jenis kendaraan dengan dua mata tambahan selain mata alami sang supir. Maksudnya spion mereka hanya terdiri atas dua yaitu kanan dan kiri. Tanpa ada spion tengah layaknya mobil biasa. Sehingga lebih sulit dibanding mengendarai mobil biasa. Dan masih banyak hal lain yang membuat memegang kendali mobil box dan truk itu sulit yang membuat supir-supir ini seperti superior di jalanan protokol. Padahal kalau anda mau tahu, kami hanya ingin dihargai karena keterbatasan. Darimana saya tahu??

Sedikit cerita bahwa saya akhirnya come back untuk nyetir mobil lagi setelah tiga tahun absen karena tabrakan yang menghabiskan uang sejuta lebih. Dan come back saya itu langsung berhadapan dengan pick up box milik sendiri yang sebenarnya sudah dimiliki 2 tahun yang lalu. Ya namanya hanya punya mobil itu, saya pun mulai belajar hingga bisa kembali menggunakan mobil bermata dua tersebut. Banyak hal yang saya pelajari. Mulai sulitnya parkir, hingga hormatnya supir semua jenis truk kepada saya saat mengendarai mobil ini. Hormatnya bukan bentuk hormat berlebih, tapi hormat layaknya menghargai sesama supir bermata dua. Aneh? Tapi ini adalah kenyataan dan silakan coba sendiri jika anda tidak percaya. J

Semakin saya belajar tentang budaya kasar supir kendaraan bermata dua, saya semakin tahu bahwa keberanian dan –menurut bahasa saya- penguasaan teritori adalah kunci mengendalikan mobil jenis ini. Jika anda mau tau lebih panjang lebar tentang apa maksud penguasaan teritori silakan tulis di papan komentar. Dua kunci itu seperti merasuk betul di alam bawah sadar saya bahkan ketika mengendarai mobil selain mobil saya sendiri. Pada awalnya saya berpikir gaya menyetir baru saya ini adalah wajar dan biasa. Namun bagi orang yang tidak terbiasa, mereka sedikit takut. Hingga akhirnya dengan berat hati sang mobil bermata dua itu harus saya serahkan pada orang lain dan berganti dengan mobil keluarga –Kijang- karena mobil itu lebih dibutuhkan oleh keluarga saya saat ini. Saat pertama membiasakan diri dengan mobil baru ini saya hanya perlu merubah pandangan depan saya saja. Bagi yang bisa menyetir mobil pasti tahu maksudnya. Tapi ternyata lebih dari itu. Saya harus belajar untuk merubah gaya menyetir saya. Bahwa saya sudah bukan teman supir mobil bermata dua lagi. Sial bagi saya, saya tidak menyadari itu. Saya pikir saya masih teman mereka. Karena gaya menyetir saya masih sama dengan mereka. Saya masih berani mepet dengan perhitungan super tipis, saya masih mengambil garis teritori saya. Tapi saya salah besar. Hingga dua kali tabrakan, dua spion hilang, dan body belakang tergores cukup dalam menyadarkan saya bahwa saya bukan lagi teman mereka.

Kekejaman hidup di Surabaya mungkin sudah sering saya bahas di dunia bond chan ini. Mulai dari budaya buruk orang Surabaya barat dan masih banyak lagi. Silakan gunakan search engine di pojok kanan atas untuk yang baru. Dan kali ini saya untuk kesekian kalinya kembali membuka kejamnya hidup di Surabaya. Apa itu?

Bahwa tidak peduli bagaimana kamu mengendarai, yang dilihat adalah apa yang kamu kendarai. Ya, ini adalah satu kesalahan fatal saya yang baru benar-benar saya sadari ketika tabrakan kedua dengan mobil baru ini. Bahwa saya lupa saya (hanya) mengendarai mobil keluarga. Bukan mobil bermata dua, sehingga tidak pantas untuk menjadi teman dan berbagi tempat dengan mobil bermata dua. Persetan saya membawa barang kiriman atau saya hanya bertamasya, tapi yang jelas di mata mereka saya adalah pengemudi mobil bermata tiga. Tidak boleh berteman dengan yang bermata dua. Dan ketika saya sadar seutuhnya, saya terinspirasi untuk menulis di sini.

Boleh jika anda menilai tulisan ini berlebihan, alay dan segala macam. Tapi kalau anda mau merasakan barang 6 bulan untuk rasakan, nikmati, dan benar-benar perhatikan anda akan membenarkan tulisan ini. Karena saya telah merasakan sendiri, saya menikmati sendiri, dan saya memperhatikannya sendiri. Tulisan ini hanya curahan hati setelah saya kehilangan uang beberapa ratus ribu karena tidak menyadari bahwa saya adalah apa yang saya kendarai.

Salam

Bond Chan

One thought on “Bukan Sekedar Transisi Setir, Ini Adalah Transisi Budaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s