PKL Bukan Masalah Ekonomi Indonesia


Selamat hari Jumat!!!!

Mungkin banyak yang kaget dengan tampilan baru Dunia Bond Chan?? Ya, sekali waktu tempat ini memang harus diganti bajunya. Bosan kan tema nya itu terus dari jaman pertama dibuat sampe sekarang udah hampir 3 tahun?? Saya aja yang punya sampe bosen sendiri sebenernya. Sampai-sampai rencana ganti baju ini yang awalnya mau saya lakukan besok ketika tepat 3rd anniversary Dunia Bond Chan saya majukan jadi kemarin karena memang sudah terlalu bosan dengan baju yang lama.

Kali ini saya membawa tulisan yang bisa jadi menyinggung perasaan blog tetangga. Karena memang sebelumnya saya yang merasa tersinggung dengan tulisan mereka. Jadi saya tegaskan yang salah dalam tulisan mereka. So, buat anda yuk nikmati tulisan terbaru di Dunia Bond Chan.

Sumber bahasan : http://hmibecak.wordpress.com/2007/08/01/melihat-fenomena-pedagang-kaki-lima-melalui-aspek-hukum/

Pedagang kaki lima atau lebih dikenal dengan PKL adalah aktivitas jual beli yang dilakukan di tempat umum dengan alat apapun. Pada sejarahnya, PKL adalah aktivitas yang dilakukan di trotoar. Yang pada masa penjajahan pemerintah belanda mengharuskan membangun trotoar untuk pejalan kaki di jalan protokol dengan lebar 5 kaki atau satu setengah meter. Pada masa kemerdekaan, entah dari mana istilah ini dirubah menjadi kaki lima.

Pedagang kaki lima, lebih dikenal dengan orang yang berjualan di pinggir jalan. Sementara jenis PKL sendiri bermacam macam. Mulai dari yang berjualan di trotoar, berjualan di traffic light, yang keliling di rumah-rumah menjajakan makanan atau minuman hingga yang berjualan di sekitaran pasar juga bisa dikatakan pedagang kaki lima.

Saya merasa sedikit tersinggung dengan tulisan dari blog HMI UNS Surakarta yang memberikan pandangan yang salah tentang PKL. Ini adalah kutipan tulisan mereka tentang PKL:

Jadi sangat wajar sekali fenomena Pedagang Kaki Lima ini merupakan imbas dari semakin banyaknya jumlah rakyat miskin di Indonesia . Mereka berdagang hanya karena tidak ada pilihan lain, mereka tidak memiliki kemampuan pendidikan yang memadai, dan tidak memiliki tingkat pendapatan ekonomi yang baik dan tidak adanyanya lapangan pekerjaan yang tersedia buat mereka. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari dan untuk membiayai keluarganya ia harus berdagang di kaki lima . Mengapa pilihannya adalah pedagang kaki lima ???? Karena pekerjaan ini sesuai dengan kemampuan mereka, yaitu modalnya tidak besar, tidak membutuhkan pendidikan yang tinggi, dan mudah untuk di kerjakan.

Menurut saya ini adalah satu hal yang menghina. Menyebut orang yang menjadi PKL adalah orang yang tidak mendapat lapangan pekerjaan dan tingkat pendapatan ekonomi yang baik. Sehingga menjadi PKL adalah pilihan. Belum lagi sebut-sebut masalah pendidikan yang tidak tinggi guna menjadi PKL, dan mudah untuk dikerjakan. Semoga tuhan mereka memaafkan yang menulis ini. Karena sesungguhnya mereka tidak sadar menjadi PKL adalah pilihan hidup. Bukan karena mereka tidak mendapat lapangan pekerjaan.karena pada dasarnya menjadi PKL berarti mereka berwirausaha, bukan menjadi babu bagi pemilik modal.

Kesalah pahaman tentang PKL menurut saya tidak seharusnya diumbar di media sosial apalagi membawa nama salah satu komunitas yang walaupun saya sendiri cukup tahu seberapa pengaruhnya komunitas itu bagi mahasiswa. PKL adalah satu diantara berjuta cara menjadi wirausaha. Dan menjadi PKL itu sama dengan menjadi wirausaha. Tahu kah mereka tentang itu? Menurut saya tidak. Karena begitu mudahnya mereka menyamakan kurangnya lapangan pekerjaan dengan orang menjadi PKL. Justru kalau saya jabarkan, PKL bisa membuka lapangan pekerjaan baru bagi orang lain. PKL bisa mempunyai pendapatan lebih tinggi dibanding mahasiswa yang baru lulus padahal pendidikan mereka punya gelar lebih rendah dibanding sarjana itu. Saya akan jabarkan di tulisan yang lain jika ada dua orang atau lebih yang meminta di papan komentar.

PKL seperti yang sudah saya jelaskan diatas memiliki banyak macam dan jenis. Dan dari jenis itu tidak bisa disama ratakan. Itu hal lain yang harus dikoreksi oleh penulis dan juga oleh yang menyetujui tulisan itu tentang salah kaprahnya tulisan PKL = masalah kemakmuran. Saya memang tidak menutup mata kalau ada PKL yang hasil per hari nya tidak banyak. Tapi itu satu atau beberapa jenis PKL dari sekian jenis PKL. Tapi setidaknya, mereka yang mendapat hasil tidak banyak itu tiap bulan mendapat uang 500rb per bulan juga bukan hal yang susah. Silakan kalau mau bukti, hubungi saya lewat papan komentar.

Saya pribadi masih penasaran dengan pernyataan PKL tidak punya pendidikan yang memadai. Seberapa banyak sih PKL yang penulis dan penanggung jawab blog itu tahu? Kok kesannya dengan mudah mereka mengatakan pendidikan pedagang rendah sehingga mereka menjadi PKL. Padahal mereka sudah memahami ilmu marketing dasar, yaitu ilmu segmentasi. Lihat pedagang koran. Jika tempat mereka berjualan banyak mobil keluarga atau isinya anak muda, mereka akan berjualan koran dengan segmen umum dan politik macam Jawa pos, Sindo, MI, Kompas dan akan menjual tabloid untuk anak muda dan wanita. Sering melihat bukan?? Tapi jarang menyadari.

Saya dan keluarga saya adalah satu diantara banyak orang yang menggantungkan hidupnya dari PKL. Pada kisaran tahun 2009 bapak saya menciptakan pengaman LPG. Dan beliau berencana memasarkan pengaman LPG ini melalui jalur PKL. Hingga yang paling radikal saya dan bapak saya pernah menjadi PKL. Dan memang sukses hingga hari ini. Itulah kenapa saya berani menulis panjang lebar soal PKL ini dan berani mencemooh mereka yang mencemooh PKL dengan satu dan dua penglihatan mata tanpa melihat lebih jauh lagi. Sedikit informasi tentang PKL. Rata-rata PKL yang menjadi pelanggan pengaman LPG punya kami tersebar di banyak penjuru Indonesia. Tidak hanya di Jawa, tapi juga kalimantan, sulawesi, bali, NTB, NTT. Saya sempat tanya beberapa hari yang lalu karena memang ini menjadi topik untuk mata kuliah MPS (metode penelitian sosial) saya di kampus begini : “mas, kenapa mau jadi PKL?” Jawabannya : “enak jadi PKL, kerja pagi sampe menjelang siang. Siang tidur, sore sampe malem jualan lagi (di tempat lain). Enaknya lagi kalau capek ya ga kerja, bos. Makanya kalo besok lulus, lanjutno usahanya bapak aja, ketimbang kerja ikut orang.” Ini adalah jawaban mereka dan mungkin jawaban dari banyak PKL. Ada yang sadar kalau itu adalah jalan hidup mereka. Jalan hidup yang ingin merdeka. Jalan hidup yang tidak ingin menjadi babu bagi orang kaya. Jadi salah besar : PKL KARENA KURANGNYA LAPANGAN KERJA.

Sebenarnya inti dari permasalahan tidak berpusat pada satu paragraf yang saya ambil saja. Tapi lebih kepada menunjukkan pada penulis dan penanggung jawab blog HMI UNS Surakarta itu bahwa PKL bukan tidak berpendidikan. PKL bukan tidak punya pekerjaan. Mereka punya pekerjaan. Dan mereka bisa membuka lapangan pekerjaan. Harus diakui satu hal bahwa PKL di Indonesia adalah penggerak ekonomi negara ini. Jadi berbanggalah dengan mereka. Bukan malah menganggap mereka sebagai masalah ekonomi negara kita tercinta ini. Itu salah besar!!! Belum lagi mengajukan saran yang menurut tafsiran saya menyuruh mereka untuk tidak lagi menjadi penggerak roda perekonomian negara yang tahun 2012 ini bisa menyentuh angka pertumbuhan diatas 6,7% dan menjadikan mereka babu dari pemilik modal.

Semoga menjadi bahan kajian ulang sebelum beropini bahwa PKL adalah sama dengan apa yang dipikirkan oleh teman-teman HMI UNS Surakarta ini.

Salam

Bond Chan

3 thoughts on “PKL Bukan Masalah Ekonomi Indonesia

  1. Ping-balik: Happy 3rd Anniversary Dunia Bond Chan –Membayar Lunas Hutang 70 Tulisan- | Dunia Bond Chan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s