Jalan Tunjungan di Persimpangan Nasib


Menyebut nama Surabaya selalu identik dengan jalan tunjungan. Jalan ini semenjak awal abad ke-20 telah menjadi salah satu pusat komersial Kota Surabaya. Untuk informasi tunjungan adalah jalan penghubung yang menghubungkan derah perumahan disebelah Selatan-Timur dan Barat Surabaya (Gubeng, Darmo, Ketabang dan Sawahan), dengan daerah perdagangan yang ada disekitar Jembatan Merah. Hingga pertengahan tahun 90 an tempat ini masih menjadi salah satu tempat jujukan belanja di surabaya. Dengan keberadaan siola sebagai pusat mall waktu itu, dan beberapa toko besar yang berjejer serta ada pasar genteng sebagai pusat oleh-oleh semakin mengukuhkan keberadaan jalan tunjungan sebagai pusat prestise kota pahlawan.

Strategisnya jalan tunjungan dengan pusat ekonomi pada waktu itu hingga tahun 90 an membuat jalan tunjungan bisa dibilang menjadi salah satu urat nadi perekonomian surabaya. Terbukti dengan banyaknya perbankan dan toko yang menjual barang dengan prestise tinggi bahkan masih ada sisanya hingga tahun 2013 ini. Bahkan sisa dari kejayaan yang masih sangat bisa dirasakan adalah keberadaan plaza tunjungan. Dimana plaza tunjungan adalah mall terbesar di asia tenggara untuk saat ini. Membuktikan bahwa jalan tunjungan masih memiliki taji untuk mereka yang mau memutar roda perdagangannya di jalan ini.

Bagi orang surabaya sendiri, sebenarnya jalan tunjungan tidak menjadi tempat yang memiliki prestise tertinggi dibanding masa penjajahan belanda maupun pada tahun 80-90 an. Kini jalan ini hanya dianggap jalan protokol dengan stationery, optik, dan beberapa bank tidak terkenal, serta hotel majapahit. Mereka lebih mengenal basuki rahmat sebagai pusat prestise dengan keberadaan TP, salah satu fast food depan TP, dan beberapa resto masakan dan gramedia expo sebagai tempat mencari buku. Bisa dikatakan jalan tunjungan kini tak ubahnya jalan sejarah saja. Tidak ada yang menganggap jalan ini penuh gengsi jika berjalan atau berdagang di sini. Mereka para pemilik bank lebih suka dengan jalan pemuda untuk menempatkan bank pusat Surabaya. Mereka developer yang ingin membangun tower bisnis lebih menyukai jalan panglima sudirman hingga darmo untuk lahan mereka dibanding jalan tunjungan. Dan pembangunan di jalan tunjungan berhenti total setelah kehadiran SOHO (small office & hotel)di seberang pintu masuk pasar genteng. Sementara di 3 tahun terakhir, di jalan basuki rahmat telah dibangun empat bangunan baru. Yang terdiri atas gramedia expo, hotel meritus, bekizar hotel, dan satu hotel sebelah dapur desa (maaf lupa namanya).

Saya sendiri masih belum tahu kenapa jalan tunjungan tidak didekati oleh para developer untuk membangun bussiness tower disana. Sementara mereka lebih memilih jalan mulai panglima sudirman hingga jalan darmo. Dan bahkan beberapa ada yang hingga arah sebaliknya panglima sudirman yaitu jalan basuki rahmat. Masalah luas lahan, menurut saya sama. Mau disambung di dua jalan pun bisa. Menghadap jalan tunjungan dan jalan embong malang. Dan secara luas jalan, masih lebih bagus hingga 2020 saat kendaraan di surabaya begitu membludak. Tapi kenapa jalan panglima sudirman yang saat ini mulai terasa macetnya karena banyaknya gedung perkantoran yang dipilih??

Menjadikan jalan tunjungan sebagai SCBD (Surabaya Central Bussiness District) atau minimal ikut masuk dalam dalam komplek SCBD yang sudah terbentuk jelas membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Karena menurut perhitungan gelap saja, untuk membangun bussiness tower dengan menghadap pada satu sisi (jalan tunjungan saja) membutuhkan uang yang tidak sedikit. Mengingat harga tanah di sana yang menurut perkiraan sudah mencapai angka 4 juta per meter persegi. Jelas akan berpengaruh pada harga sewa kantor nantinya. Dan akan berujung pada pertanyaan : siapa yang mau beli dengan harga semahal itu sementara kita bisa berjalan kaki kurang dari 1km sudah menemukan gedung perkantoran yang bisa jadi malah setengah harga dibanding gedung perkantoran di jalan tunjungan itu nantinya. Miris bukan??

Kemirisan jalan tunjungan ini memang seperti pepatah : hidup segan mati tak mau. Saya punya teman yang orang tuanya punya optik di jalan tunjungan. dia mengatakan bahwa memang jalan tunjungan ini rame setiap saat. Tapi hanya rame saja. Untuk pengunjung ke optiknya tidak serame yang melewati depan optik. Dan ini juga dirasakan oleh yang lain. Bahkan sekali waktu silakan datang ke mall baru pengganti siola. Rame layaknya mall lain?? Tidak. Bagaimana dengan food courtnya??

Sedikit angan-angan atau bayangan tentang jalan tunjungan beberapa dekade ke depan di pikiran saya hanya ada dua : menjadi jalan yang penuh hotel atau menjadi jalan bersejarah dengan hanya tersisa hotel majapahit dan beberapa toko yang hidup segan mati tak mau menjual seperti tetangga-tetangga mereka yang sudah gulung tikar sekarang. Sulit mengharap peran pemerintah untuk merevitalisasi atau merubah keadaan jalan tunjungan saat ini. Karena orang yang mau membangun hotel di Surabaya pun nyatanya masih memilih kawasan basuki rahmat dan daerah darmo yang masih ada beberapa lahan tidur.

Semoga saya masih memiliki kesempatan untuk menulis di blog ini satu dekade lagi, akan saya kabarkan angan-angan saya yang mana yang akan menjadi kenyataan. Yang pertama atau yang kedua.

 

Salam

 

Bond Chan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s