Transportasi Yang Tepat Untuk Surabaya


Cukup lama, semenjak saya mengikuti kemajuan kota ini saya selalu mendengungkan atau menjawab pertanyaan orang jika ada yang tanya : apa yang pas untuk mengurai kemacetan di Surabaya? Dan jawaban saya adalah : menambah atau memperlebar ruas jalan. Karena melihat budaya warga kota pahlawan ini yang tidak ingin dikekang dan mencari solusi paling simpel,paling mudah untuk mereka.  Namun, seakan mendapat sebuah ilham setelah membaca berita akhir-akhir ini bahwa pemkot kota Surabaya akan membangun Trem dan MRT di kota ini dengan embel-embel “PEMKOT HAMPIR TIDAK MENGELUARKAN UANG”  (mengutip tulisan di koran jawa pos) yang kabarnya akan digarap sepenuhnya oleh investor.

Setelah saya baca berita tersebut kira-kira dua hari yang lalu (dan itu jadi hari terakhir saya membaca koran sampai pagi ini) saya menjadi penasaran, sebenarnya angkutan umum macam apa yang dibutuhkan kota ini? Apakah Trem yang jalannya bisa dipakai sebagai jalan umum? Yang entah gimana ceritanya, gundukan yang menjadi celah di sisi kanan kiri rel tidak membuat pengguna jalan mengalami guncangan bahkan bisa selip ketika melewati itu. Ataukan MRT? Yang tiang pemancangnya tidak bisa menembus gang kecil di sekitaran Surabaya. Dan saya menemukan satu jawaban : Angkutan umum dengan pemberian rute yang menjangkau gang dalam dan menjangkau tengah kota, dan satu lagi sebagai sunah adalah menjangkau wilayah pabrik macam margomulyo dan rungkut industri serta kalianak.

Di Surabaya hal tersebut sebenarnya jamak ada. Sebutlah Bemo WL, T1, BJ, E. Bemo tersebut adalah salah satu solusi yang sebenarnya bagus untuk menjawab : bagaimana mencegah kemacetan Jakarta menular di Surabaya. Bagaimana bisa? Orang Surabaya, selalu saya sebut sebagai orang yang mencari efisiensi maksimum dengan harga minimum agar dapat mengisi dompet secara maksimum. Itulah kenapa Taksi jika diletakkan di wilayah industri akan kalah oleh bemo. Sebagaimanapun nyamannya taksi tersebut, angkutan umum yang berjejalan akan lebih mereka pilih. Kenapa? Dari segi efisiensi maksimum bisa sama dengan bemo.  Dari segi harga apakah efisiensi? Tidak. Itu berkaitan langsung dengan prinsip ketiga : mengisi dompet secara maksimum. Dan jawabannya juga sama dengan prinsip kedua. 🙂

Sepertinya hal beginian tidak diperhatikan oleh Pemkot. Meskipun saya cukup terbelalak mengetahui bahwa untuk ‘menyempurnakan’ keberadaan MRT dan Trem ini, disediakan angkutan umum yang menjelajah wilayah pedalaman kota ini yang mempunyai rute ke halte  terdekat. Ini sebuah hal yang lucu, mereka sadar bahwa MRT dan trem tidak bisa menembus tempat sempit, lalu dibuatlah angkutan umum untuk jemput bola. Kenapa angkutan umum itu saja yang ditambah rute dari pedalaman menuju ke jalan strategis kota ini? Kenapa yang mudah dipersulit?

Itu baru dari segi efisiensi. Mari kita hitung berapa biaya yang dihabiskan untuk membangun MRT dan Trem? Maaf sebelumnya, karena saya ketika membaca berita (dua hari yang lalu) tersebut menyepelekan jumlah uangnya, karena keterbatasan waktu. 😀 Tapi yang saya tahu, jumlahnya mencapa triliun an rupiah. Dan yang terbekas di otak saya, bahwa pemkot hanya mengeluarkan beberapa miliar untuk kebutuhan lain. Jumlahnya Triliunan, dan mungkin bisa hingga belasan triliun rupiah. Itu semua digunakan untuk MRT dan Trem. Untuk sebuah angkutan umum, yang hebatnya bisa mengurangi pengangguran di kota ini. Karena, akan ada angkutan umum trayek baru. Itu berarti butuh jumlah supir yang berjumlah puluhan. Belum kernet, belum lagi penjual tiket, belum Masinis MRT dan Trem. Jumlahnya bisa hingga ratusan orang. Dan itu berarti mengurangi jumlah pengangguran di kota ini yang dengan tutup mata pun bisa dikatakan banyak. Namun sedikit dari mereka akan makan gaji buta, dan akan ada pelangsingan karyawan karena pemasukan lebih sedikit dari pengeluaran. Karena angkutan yang mereka jaga, tidak laku di pasaran. Dan orang lebih memilih untuk memakai kendaraan pribadi. Sungguh kasihan…

Sementara jika kita melihat ke angkutan umum atau orang sini lebih suka menyebut bemo, mari kita hitung. Sebuah mobil untuk bemo harganya berada pada kisaran 40-70 an juta. Karena tidak mungkin mobil harga 100 juta dipakai untuk angkutan umum bukan? Kecuali ada argo yang tidak relevan dengan prinsip kedua dan ketiga yang sudah saya bahas sebelumnya. 😀 Kembali ke perhitungan. Dengan angka tengah kita sebut 55 Juta per mobil, dikali 50 mobil jumlahnya :  2.750.000.000. Cukup jauh jumlahnya jika dibanding pembangunan MRT dan Trem. Dan lagi… Jika jumlah itu dipegang oleh swasta, yang berarti akan ada perawatan lebih baik dari segi apapun membuat bayangan akan masa depan revolusi angkutan umum kota besar bermulai di Surabaya akan sangat terang benderang. Apalagi jika disediakan halte di tengah tengah kota, atau semacamnya. Akan membuat Surabaya menjadi kota yang tidak hanya memberikan keindahan, tapi juga menunjukkan keadaan sesungguhnya kota ini dengan penjelajahan (tidak sengaja) orang baru ketika menggunakan angkutan umum kota ini.

Masalah dalam hal ini juga bukan tidak ada. Setiap hal di dunia ini selalu mempunyai positif dan negatif. Dan negatif itu selalu menjadi masalah kata orang bijak.  Disini masalah terletak pada trayek dan nama. Karena jika angkutan umum ini adalah sebuah benda baru, maka secara hukum alam dilarang menyaingi yang sudah ada secara harga. Karena nanti ada alasan dari supir bemo lama bahwa pemerintah tidak pro rakyat kecil dengan mengeluarkan bemo baru. Padahal yang menjadi supir bemo baru tersebut juga orang kecil. 😀 Solusinya? Revitalisasi bemo lama. Atau secara gampang, perbarui bemo lama. Mobil yang tidak memenuhi standard diganti dengan mobil baru dengan memberi cicilan murah, atau yang masih memenuhi standard tapi kusam di cat, dsb. Setelahnya, kunci semua trayek bemo lama kecuali yang keluar masuk gang kecil. Khusus mereka, diberi pelebaran trayek. Jika sudah, tinggal dilihat wilayah mana saja yang belum didatangi bemo lama. Itu diberi bemo baru. Meskipun demo akan terjadi, namun akan ada alasan yang relevan untuk ini. 🙂

Semoga bermanfaat. Semoga pemerintah kota Surabaya membaca tulisan saya ini. 😀

Iklan

Selamat Ulang Tahun Surabaya Part 5 -Tanggung Jawab Ibu Kota-


Akhirnya sampai juga di tanggal 31 Mei 2011..!!!

Pas sudah hari ini adalah ulang tahun ke 718 kota Surabaya..!!!! tretetetetetttt.. Selamat ulang tahun kota Surabaya..!!! 😀

Kali ini adalah puncak dari total 5 part kado ulang tahun khas dari Dunia Bond Chan. Mau bahas apa sebagai kado di hari ulang tahun hari ini??

Surabaya, kota yang dijadikan ibu kota jawa timur yang mungkin sejak negeri ini dilahirkan. Ibu kota selalu dikaitkan dengan pusat pemerintahan, pusat ekonomi, pusat hiburan di sebuah provinsi. Tak ayal, sejak dulu Surabaya selalu disesaki oleh kaum urban yang dari tahun ke tahun bertambah. Karena di kota ini, gubernur mengatur provinsi Jawa Timur. Karena di kota ini, Gubernur mengatur jalannya roda ekonomi provinsi paling timur pulau jawa ini agar menjadi yang terbaik. Dan karena di kota ini, gubernur yang terkenal dengan kumisnya yang lebat ini mengatur pengangguran yang berserakan di wilayahnya.

Pengangguran adalah sebutan untuk orang yang dianggap tidak memiliki pekerjaan sama sekali. Pengangguran selalu di identikkan dengan kemiskinan. Dan kemiskinan selalu dianggap meningkatkan angka kemiskinan di sebuah negara bahkan kota atau kabupaten. Sebuah ibu kota dianggap mempunyai peran penting untuk perputaran uang terbesar di sebuah provinsi. Dan ibu kota dianggap sebagai pusat pekerjaan untuk (calon) pengangguran yang berada di desa. Terlepas setelah sampai di sini mereka mendapat pekerjaan atau tidak, yang jelas ekspektasi itu sudah mereka lihat dan rasakan sejak mereka bisa mendengar. Paradoks itu juga membuat orang yang memiliki jiwa pedagang mencoba mengadu nasib di ibu kota. Berpegangan pada banyaknya uang yang hidup di kota, membuat mereka memenuhi tempat wisata untuk menjajakan barang dagangannya.

Ya, kalau mau menyurvei kita bisa mendapatkan 80% dari semua PKL di kota Surabaya adalah orang dari perantauan. Dan rata-rata dari mereka adalah orang dari wilayah sebelah ibu kota yang pada periode 2010-2015  dipimpin oleh walikota perempuan ini. Sebenarnya tidak seberapa penting prosentase PKL yang begitu besar dari luar kota Surabaya. Karena hal ini adalah wajar adanya. Karena anda harus ingat, Surabaya adalah ibu kota Jawa Timur.

Sebagai ibu kota, Surabaya sebenarnya sudah banyak membantu mengurangi pengangguran di wilayah sekitarnya. Dan Surabaya sudah cukup mumpuni untuk menjadi nenek bagi anak-anaknya yang harus menanggung beban karena cucu-cucunya tidak memiliki pekerjaan. Dia tampung cucu-cucunya mengais rezeki di tempatnya. Karena mungkin wilayah ibunya tidak mencukupi kebutuhan hidup mereka. Namun, kurangnya fasilitas masih menjadi permasalahan.

Pasar di Surabaya kalau dihitung bisa mencapai 100 pasar. Di kota seperti Surabaya, untuk masalah pasar yang memenuhi pangan bagi orang-orang yang bermukim disini bisa mencapai 100 pasar!! Belum termasuk pasar dadakan macam pasar pagi Tugu Pahlawan, Pasar pagi Masjid Al Akbar, dan banyak lagi pasar dadakan lainnya. Jumlah sebanyak itu sepertinya masih kurang untuk mengurangi jumlah pengangguran di jawa timur khususnya. Apa permasalahannya?

Masalah obrakan masih menjadi masalah yang sulit terurai. Ditambah banyaknya (dan kuatnya) protes dari orang-orang kaya yang ga mau jalan mereka tiap minggu diganggu oleh pasar dadakan membuat para PKL pun mulai bingung dan harus memutar otak untuk bisa lepas dari masalah obrakan ini.

Pasar Tugu pahlawan adalah salah satu contoh konkrit pasar yang menjadi adu kuat antara kebutuhan makan anak istri dan egoisme semata dari para orang kaya di muka bumi kota ekonomi terbesar di Indonesia ini. Pasar yang telah ada sejak saya belum lahir (lebih dari 20 tahun) ini adalah salah satu pasar yang paling saya ketahui bagaimana rasanya berjualan di sana. Karena saya sendiri pernah menjadi PKL di sana barang 4 bulan. Obrakan di pasar tugu pahlawan ini memang tidak sesadis pasar dadakan lain, karena pasar tugu pahlawan adalah salah satu pasar yang menurut saya memiliki struktur preman yang terkoordinir.

Apa masalahnya? Pasar satu ini adalah pasar yang membuat macet jalanan depan tugu pahlawan hingga melingkar sampai Bank BI di belakangnya. Namun, kemacetan ini justru dianggap karena PKL yang terlalu maju. Padahal, PKL di sana tetap sebanyak itu. Nambah pun sulit. Karena ada stan tidak tertulis dan tidak bertanda di pasar dadakan yang selesai pukul 11 siang ini. Jadi, kalau ada yang mau mengambil stand, dia harus mendaftar dulu. Kalau mengambil stand orang, dia akan diusir paksa. Karena yang berjualan di sana rata-rata sudah lebih dari setahun. Jadi mereka sudah hapal stand masing-masing. Jadi, yang menyebabkan kemacetan siapa??? Ada dua. Pertama adalah pembeli drive thru yang suka memarkir sepeda motornya di pinggir jalan depan stand tujuan mereka. Kedua adalah orang yang memakai mobil.

Sempat ada wacana pemindahan pasar yang beromzet hingga setengah M di tanggal muda ini. Namun untungnya pemerintah tidak menggubris hal tersebut.

Itu baru satu contoh. Masih banyak lagi pasar dadakan yang secara gamblang mampu meningkatkan tingkat enterpreuner di provinsi Jawa Timur. Seharusnya pemerintah sadar, bahwa relokasi untuk pasar dadakan jelas sangat dibutuhkan untuk mengurangi jumlah pengangguran di Jawa Timur. Dan seharusnya, pemerintah kota Surabaya pun semoga ikut mewujudkannya. Karena ini adalah salah satu bukti tanggung jawab dari walikota sebuah ibu kota di salah satu provinsi di Surabaya. Agar pasar dadakan semakin banyak. Sehingga pedagang dadakan dari seluruh Jawa Timur memenuhi kota ini, yang berujung pada semakin mengecilnya angka pengangguran di Jawa Timur dan Surabaya khususnya.

Sekali lagi, selamat ulang tahun kota Surabaya..!!! Semoga di umur yang ke 718 ini kamu sadar akan tanggung jawabmu untuk ikut mengurangi pengangguran di Jawa Timur.. Karena kamu adalah ibu kota bagi mereka.

Salam Dunia Bond Chan

Akhirnya selesai juga.. 😀

Buat yang belum baca part 1-4 silahkan baca di sini..

Selamat ulang tahun Surabaya part 1

Selamat Ulang Tahun Surabaya Part 2

Selamat Ulang Tahun Surabaya Part 3 

Selamat Ulang Tahun Surabaya Part 4

“Mahasiswa Harus Kritis” Hanya Ucapan Saja!!!!


Saya sekitar dua mingguan ini, merasa pedas sekali mata saya setiap membuka mata dan membuka pintu lalu mengambil sebuah koran pagi yang diantarkan loper koran. Bukan karena saya kena penyakit mata atau memang saya akhir-akhir ini suka tidur terlalu malam dan bangun terlalu pagi, tapi karena kasus tol tengah kota yang sedang ramai sekali dibicarakan di kota Surabaya. Mega proyek tititpan pemerintah pusat ini, memang telah digulirkan oleh DPRD surabaya masa bakti 2004-2009. Namun sempat ditutup pada tahun 2007 karena tidak disetujui oleh walikota waktu itu, bapak Bambang DH.  Dan sekitar sebulan ini cerita itu kembali bergulir memang. Dimulai dari pembangunan tol tengah kota, lalu rencana terowongan bawah tanah untuk menyambungkan dari arah urip sumoharjo sampai mayjend sungkono kabarnya. Semua bergulir bebarengan, dan entah disengaja atau tidak semua bebarengan dengan selesainya MERR (middle east ring road) di wilayah timur surabaya.  Apakah semua itu berjalan bebarengan dan disengaja oleh beberapa oknum atau tidak, yang jelas satu hal, semua itu muncul bebarengan.  Dan sekarang kabar paling hangat dan paling ramai dibicarakan adalah rencana pembangunan tol tengah kota.  Usut punya usut, ternyata pembangunan megaproyek perusak tata kota surabaya ini merupakan titipan pemerintah pusat. Diluar dugaan, pemerintah pusat ternyata masih ‘ngambek’ dengan pemkot Surabaya yang mana karena digagalkannya mega proyek ini ditahun 2007. Hingga akhirnya, ditahun 2010 mereka kembali menggulirkan wacana itu dengan sangat gencar bahkan bisa membuat Kemen PU dan pemerintah kota Surabaya geger bukan karuan.

Hal tersebutlah yang membuat saya begitu pedas memakai mata untuk membaca berita sekitar 2 mingguan ini. Pemerintahan di bawah ibu Tri Risma Harini itu berada dibawah ancaman pengadilan yang dilayangkan oleh Kemen PU hanya gara-gara ada indikasi bakal digagalkannya kembali pembangunan tol penghabis APBD setidaknya 3 tahun kedepan tersebut.  Pemerintah pusat begitu getol dengan rencana tol tengah kota tersebut, sampai-sampai mereka mengancam bakal membawa kasus penggagalan tersebut sampai ke pengadilan internasional sekalipun.. *tepuk tangan*

Disaat saat ini, saya yakin pemkot saat ini tengah pusing tujuh keliling, sambil memikirkan senapan yang tingal dipencet oleh Kemen PU yang sedang nyaman menempel dikepala bu risma.  Hanya karena sebuah proyek tol tengah kota yang kabarnya menyambungkan wilayah Aloha sampai perak tersebut, pemerintah pusat sampai membutakan apapun yang ada demi melancarkan proyek tidak jelas tersebut. Saya pribadi sebenarnya bertanya-tanya, untuk apakah pembangunan tol tengah kota tersebut? penting kah? dan seberapa bergunanya tol tersebut?

Sedikit pendapat pribadi saya, tol tengah kota tersebut sejatinya sangat tidak berguna bagi masyarakat Surabaya. Karena kemacetan Surabaya deawasa ini hanya berkutat di jalan Ahmad Yani dan mulai jembatan depan terminal jayabaya sampai bundaran waru. Sementara pembangunan tol tengah kota tersebut menyambungkan wilayah Aloha (perbatasan sidoarjo dan Surabaya) sampai perak (ujung surabaya yang berdekatan dengan laut). Dan jalur tol tengah kota ini dilewatkan wilayah timur kota Surabaya mulai dari pondok chandra, semolo waru, arif rahman hakim, kenjeran, dan berakhir di perak.  Untuk masalah pintu keluar tol tersebut hanya dimungkinkan di wilayah semolo waru, kenjeran, dan perak. Yang jadi pertanyaan disini adalah, untuk anda atau saya yang baru saja turun dari bandara juanda dan ingin pergi ke wilayah tengah kota surabaya tapi tidak mau menikmati kemacetan di jalan Ahmad Yani sampai jayabaya, apakah anda akan memilih lewat tol tengah kota yang mana itu berarti anda turun di Semolo waru lalu menuju ke tengah kota entah lewat ngagel atau lewat kertajaya? Sementara anda bisa memangkas waktu, memangkas bensin dan tentu saja memangkas uang (untuk membayar tiket tol) jika anda melewati jalan Ahmad Yani? Kalau tol tengah kota ini untuk membantu trailer besar untuk bisa langsung dari aloha ke perak tanpa lewat tengah kota, ini juga terlampau bodoh. Seumur saya hidup di surabaya, saya tidak pernah menemukan trailer lalu lalang di wilayah tengah kota, atau di daerah rawan macet. Karena memang sudah ada tol dari arah waru yang bisa langsung melenggang ke margorejo atau ke perak sebagai destinasi para trailer tersebut.

Sebenarnya yang jadi pembahasan saya dari awal bukanlah membahas masalah ketidak setujuan saya dengan tol tengah kota yang gila titipan dari pemerintah pusat tersebut, tapi lebih dari itu saya mempertanyakan dimanakah para mahasiswa di seluruh penjuru Surabaya yang kemarin begitu lantang berdemo soal satu tahun pemerintahan SBY-BOEDIONO? Dimanakah mereka? Setiap hari saya menanti di koran-koran atau di manapun di tempat saya bisa menemukan info tentang demo di surabaya. Tidak ada satupun mahasiswa yang merencanakan pembangunan tol tengah kota yang membuat sengsara tidak hanya pemkot surabaya saat ini yang berada dibawah senapan kemen PU, tapi juga masyarakat surabaya terutama di wilayah timur yang harus pindah dari tempat ternyamanan mereka selama ini hanya untuk proyek bego itu.

Sengaja saya gulirkan pembahasan tentang tol tengah kota diawal tulisan saya ini. Untuk berjaga-jaga mungkin saja mereka (mahasiswa di surabaya) tidak mengerti akan kacaunya kasus pembangunan tol tengah kota ini.  Ternyata pemkot surabaya pun hanya bisa memompa jantung sampai nanti, karena ternyata tidak ada dukungan dari masyarakat surabaya yang biasanya diwakili oleh mahasiswa-mahasiswa yang mengakunya “kritis”.  Saya jadi ingat begitu lantangnya mereka yang kemarin berkumpul di depan gedung grahadi menyuarakan tentang bobroknya pemerintah SBY dan KIB II nya tersebut. Tapi begitu melempem dan tidak mau tahu tentang apa yang begitu dibutuhkan oleh walikota wanita pertama di surabaya tersebut saat ini. Walikota begitu butuh suara dukungan. Sebuah dukungan untuk menolak tol tengah kota yang begitu tak berguna tersebut.

Wahai mahasiswa seluruh Surabaya, mana suara kalian? Apakah kalian mau, pajak masyarakat surabaya yang selama ini sudah diberikan dengan suka rela hanya agar ada pembangunan berkala yang dapat dinikmati oleh orang surabaya harus dipakai untuk sebuah tol yang tidak berguna DAN MASIH HARUS MEMBAYAR UNTUK MENGGUNAKANNYA? Wahai para pengisi ruang BEM seluruh jurusan seluruh fakultas di surabaya, apakah kalian mau orang-orang Surabaya harus meninggalkan tempat tinggal mereka yang nyaman sekarang demi pembangunan tak berguna ini? Wahai para senior yang biasanya berkata mahasiswa harus kritis, dimana gerak langkah kalian ketika pemerintah pusat sudah berani mengancam akan tidak boleh ada pembangunan fisik untuk tata kota Surabaya sampai 5 tahun ke depan? DIMANA KALIAN SEMUA MAHASISWA YANG KATANYA MEMILIKI RASA KRITIS?? DIMANA??? DIMANA??? JAWABLAH!!!! DIMANA???

Sebagai penutup dari kesemua ini, segeralah sadar. Karena dengan anda sadar, MERR di surabaya timur mungkin tidak akan jadi ditarik bayaran untuk setiap kali menggunakannya. Karena anda sadar pula, uang pajak seluruh masyarakat Surabaya tidak akan terbuang percuma untuk pembangunan mega konyol tersebut. Dan untuk yang terakhir, SADARLAH!!!! Karena dengan anda sadar,  Surabaya akan memilik kedaulatan yang sempurna atas tata kotanya. Bukan malah ditata oleh orang yang tidak mengerti Surabaya yang bisanya cuma teriak-teriak di kantor Kemen PU.

Bond chan

mahasiswa bahasa jepang fakultas bahasa dan seni Universitas negeri Surabaya